Perempuan, Ibu Pertiwi, dan Rahasia Duniawi

 


Perempuan, Ibu Pertiwi, dan Rahasia Duniawi

Perempuan adalah bumi.
Bumi yang memeluk, menumbuhkan, dan memberi makan seluruh kehidupan.
Seperti halnya bumi, ia menerima segala benih, menyuburkan, lalu melahirkan kehidupan baru.

Karena itulah, dalam simbol-simbol lama bangsa Nusantara, bumi disebut Ibu Pertiwi — bukan “Bapak Pertiwi.”
Ia adalah lambang kesabaran, keteguhan, dan daya tahan.
Ia diam, tapi menopang segalanya.
Ia tidak banyak bicara, tapi semua kehidupan bersandar padanya.

Perempuan sebagai Duniawi

Dalam pandangan sufi, perempuan adalah tajalli duniawi — manifestasi keindahan Allah di alam nyata.
Laki-laki sering disebut “langit,” dan perempuan “bumi.”
Langit menurunkan hujan, bumi menumbuhkan hasilnya.
Keduanya tak bisa dipisahkan.
Langit tanpa bumi hanyalah kosong, dan bumi tanpa hujan hanyalah tandus.

Karena itu, ketika Al-Qur’an menggambarkan kenikmatan dunia yang paling menggoda bagi laki-laki sebagai “wanita, anak-anak, dan harta,” itu bukan penghinaan, tapi pengakuan terhadap kekuatan bumi dalam bentuknya yang paling memesona — perempuan.

Dunia, Perempuan, dan Cinta

Kata “dunia” sendiri berasal dari akar kata dana yang berarti “dekat.”
Ia dekat karena nyata, indah, dan menggoda.
Dan karena itu pula, manusia diuji di dalamnya.
Begitu pula perempuan: keindahannya mendekatkan, sekaligus menguji.
Ia bisa menjadi jalan menuju syahwat, tapi juga bisa menjadi jalan menuju syuhud — penyaksian terhadap rahmat Allah yang Maha Indah.

Penutup

Jadi ketika kita berkata,

“Ibu Pertiwi, bumi, duniawi — itulah perempuan,”
kita sebenarnya sedang berbicara tentang hakikat penciptaan:
bahwa dari rahim perempuan, seluruh kehidupan bermula.
Bahwa bumi — seperti halnya perempuan — bukan sekadar tempat berpijak, tapi ruang belajar tentang cinta, kesabaran, dan ketulusan yang tak bersyarat.

Perempuan adalah bumi yang bernapas.
Dan siapa yang menghormati perempuan, sejatinya sedang menghormati bumi dan kehidupan itu sendiri. 🌾


🟢 Redaksi GresikBaik.my.id
"Berpikir Jernih, Menulis dengan Nur."