Orientasi Tertinggi: Laki-Laki, Perempuan, dan Rahasia Keindahan Ciptaan

 


Orientasi Tertinggi: Laki-Laki, Perempuan, dan Rahasia Keindahan Ciptaan

Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan dengan kecenderungan batin yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini bukan sekadar biologis, melainkan juga spiritual dan filosofis.
Al-Qur’an bahkan secara gamblang menyebutkan dalam surah Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan indah bagi manusia (laki-laki) kecintaan terhadap apa yang diingini, yaitu perempuan, anak-anak, harta benda, dan seterusnya.”

Urutan dalam ayat itu bukan tanpa makna. Ia menyingkap fitrah terdalam laki-laki: orientasi tertingginya adalah perempuan — simbol keindahan, cinta, dan ketertarikan yang dapat mengguncang seluruh energi hidupnya. Tak jarang, demi perempuan, laki-laki mampu menembus batas, menantang bahaya, bahkan “menghalalkan segala cara.” Karena itulah iman dan akal menjadi rem, agar daya tarik itu tidak berubah menjadi jerat yang menjerumuskan.

Perempuan: Ciptaan yang Mewakili Keindahan

Sementara itu, perempuan memiliki orientasi yang berbeda. Ia bukan mencari laki-laki sebagai kenikmatan tertinggi, melainkan keindahan itu sendiri. Karena ia adalah perhiasan dunia — sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang salehah.”
(HR. Muslim)

Maka wajar, imbalan surgawi bagi perempuan bukanlah “bidadara,” melainkan keindahan yang tak terlukiskan: pakaian, permata, cahaya, dan kedamaian yang menenteramkan. Semua sesuai dengan fitrahnya — mencintai harmoni, kemuliaan, dan keindahan yang suci.

Daya Tarik yang Menjadi Jalan Spiritual

Dalam perspektif para sufi, cinta terhadap perempuan bukanlah sekadar dorongan jasmani, melainkan bentuk tajalli jamāl Allah — penampakan keindahan Tuhan di alam ciptaan. Karena itu, bila dihayati dengan iman, cinta terhadap perempuan justru bisa menjadi jalan menuju pengenalan kepada Sang Pencipta.

Ibn Arabi menulis dalam Futuhat al-Makkiyah:

“Tidak ada bentuk manifestasi yang lebih sempurna bagi keindahan Ilahi di dunia ini selain perempuan.”

Maka laki-laki yang mencintai dengan hati yang bersih, sebetulnya sedang belajar memahami rahasia cinta Ilahi melalui makhluk yang paling halus perasaannya.

Penutup

Perbedaan orientasi ini bukan untuk membeda-bedakan derajat, tetapi untuk menunjukkan keseimbangan: laki-laki mencari keindahan, perempuan menghadirkan keindahan.
Keduanya saling melengkapi — seperti siang dan malam, laut dan pantai, jasad dan ruh.

Surga bagi laki-laki mungkin penuh bidadari.
Tapi surga bagi perempuan, adalah keindahan yang tak bertepi.


🟢 Redaksi GresikBaik.my.id
"Berpikir Jernih, Menulis dengan Nur."