Pengangguran di Gresik: Ironi Kota Industri dan Ancaman Kesejahteraan
Pengangguran di Gresik: Ironi Kota Industri dan Ancaman Kesejahteraan
Gresik, Kota Industri dengan PR Besar
Kabupaten Gresik sering dipuji sebagai “jantung industri Jawa Timur”. Puluhan pabrik besar berdiri di sini: semen, petrokimia, baja, hingga kawasan industri raksasa JIIPE. Secara logika, peluang kerja seharusnya melimpah. Namun, realita berbicara lain.
Data BPS Agustus 2024 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Gresik mencapai 6,45%, atau sekitar 49 ribu orang. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata nasional. Ironis, di tengah geliat investasi dan nilai UMK Gresik yang tinggi (Rp 4,9 juta pada 2025), ribuan warganya justru masih kesulitan mencari pekerjaan.
Mengapa Gresik Masih Tinggi Pengangguran?
UMK Tinggi, Tenaga Kerja Lokal Tersisih
Upah minimum Gresik termasuk yang tertinggi di Jatim. Alih-alih menjadi berkah, justru sering dianggap “biang kerok” perusahaan enggan merekrut tenaga kerja baru. Akibatnya, hanya tenaga terampil yang terserap, sementara lulusan SMA/SMK lokal sering kalah bersaing.
Banyak pabrik beroperasi dengan sistem padat modal, bukan padat karya. Bahkan perekrutan kadang lebih mengutamakan tenaga kerja luar daerah. Hal ini menimbulkan kesenjangan: industri tumbuh, tetapi tidak otomatis mensejahterakan masyarakat sekitar.
Link and Match Pendidikan–Industri Lemah
Sekolah dan universitas di Gresik belum sepenuhnya menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri modern. Alhasil, banyak lulusan tidak sesuai kompetensi yang dicari pabrik.
Dampak Ekonomi dan Sosial
- Ekonomi Melambat di Akar Rumput → Daya beli rumah tangga melemah, UMKM lesu karena konsumen semakin hemat.
- Ketimpangan Sosial → Gap antara pekerja mapan dengan penganggur makin lebar. Di satu sisi ada kelompok dengan gaji tinggi, di sisi lain ribuan orang bertahan dengan pekerjaan serabutan.
- Beban Pemerintah Bertambah → Anggaran bansos dan program pelatihan kerja membengkak, namun hasilnya sering tidak berkelanjutan.
- Potensi Masalah Sosial → Tingginya pengangguran rawan memicu kriminalitas, konflik sosial, dan masalah mental di kalangan generasi muda.
Kritik Konstruktif: Apa yang Harus Dilakukan?
Industri Wajib Lebih Inklusif
Reformasi Pendidikan Vokasi
SMK dan kampus di Gresik perlu bermitra erat dengan industri. Kurikulum harus disesuaikan, magang diperluas, dan lulusan dipastikan punya keahlian siap pakai.
Dorong Ekonomi Alternatif
Jangan hanya bertumpu pada pabrik. UMKM, ekonomi kreatif, dan sektor pertanian modern perlu mendapat dukungan nyata, baik modal maupun akses pasar. Ini penting untuk menciptakan lapangan kerja mandiri.
Audit Kebijakan Ketenagakerjaan
Pemerintah harus transparan: berapa sebenarnya serapan tenaga kerja lokal dari setiap investasi? Apakah benar investasi triliunan otomatis menyerap ribuan warga? Data ini harus dibuka agar publik bisa menilai.
Penutup
Gresik sedang menghadapi ironi: kaya industri, tapi masih miskin kesempatan kerja bagi rakyatnya. Jika kondisi ini dibiarkan, pengangguran tidak hanya menggerus kesejahteraan, tapi juga menciptakan bom waktu sosial.
Namun masalah ini bukan tanpa solusi. Dengan kebijakan yang tegas, kemitraan pendidikan–industri yang nyata, serta keberpihakan pada tenaga kerja lokal, Gresik bisa keluar dari jebakan pengangguran struktural.
Industri boleh tumbuh, tapi jangan biarkan rakyatnya hanya jadi penonton.
