Cukup KTP + Skill: Janji Manis dari Demo Damai Gresik
Demo Damai Gresik: Janji KTP &
Skill Cukup untuk Kerja, Solusi Nyata atau Retorika?
Gresik – Aksi unjuk rasa yang digelar warga Gresik bersama
komunitas buruh berlangsung dengan suasana berbeda. Ribuan massa hadir, namun
alih-alih ricuh, demo itu justru berujung dialog hangat. Bupati Gresik dan
Disnaker turun langsung menemui massa, bersalaman, dan berdiskusi seakan tengah
berbincang dengan sahabat akrab.
Dari pertemuan itu muncul satu janji penting: warga Gresik
cukup bermodalkan KTP dan kemampuan yang dimiliki untuk bisa mengakses lapangan
pekerjaan. Janji ini disambut antusias oleh peserta aksi, karena dianggap
sebagai langkah maju dalam memberikan ruang bagi tenaga kerja lokal.
Namun, di balik suasana akrab dan kabar baik tersebut,
muncul pertanyaan kritis:
- Apakah janji ini bisa benar-benar diwujudkan secara nyata?
- Bagaimana mekanisme verifikasi “kemampuan” yang dimaksud?
- Apakah perusahaan siap menerima tenaga kerja hanya dengan syarat KTP dan skill, tanpa birokrasi berlapis?
Sejarah mencatat, banyak janji politik atau kebijakan publik
yang terdengar manis saat aksi massa, namun kerap kandas di tahap implementasi.
Karena itu, masyarakat perlu tetap mengawal kesepakatan ini agar tidak berhenti
pada level retorika.
Langkah Bupati dan Disnaker patut diapresiasi karena memilih
jalur dialog daripada konfrontasi. Namun apresiasi saja tidak cukup. Yang lebih
penting adalah memastikan janji “cukup KTP dan skill” benar-benar berjalan di
lapangan, sehingga warga Gresik tidak hanya merasa didengar, tetapi juga
merasakan perubahan nyata dalam akses kerja.
Aksi damai ini membuktikan bahwa demonstrasi tidak selalu
identik dengan konflik. Justru ketika rakyat dan pemimpin mau duduk bersama,
solusi bisa ditemukan. Tinggal, apakah solusi itu sungguh-sungguh dijalankan
atau sekadar menjadi penenang sesaat.
