Cukup KTP + Skill: Janji Manis dari Demo Damai Gresik

 

Ali Candi Ketua Genpatra

Demo Damai Gresik: Janji KTP & Skill Cukup untuk Kerja, Solusi Nyata atau Retorika?

Gresik – Aksi unjuk rasa yang digelar warga Gresik bersama komunitas buruh berlangsung dengan suasana berbeda. Ribuan massa hadir, namun alih-alih ricuh, demo itu justru berujung dialog hangat. Bupati Gresik dan Disnaker turun langsung menemui massa, bersalaman, dan berdiskusi seakan tengah berbincang dengan sahabat akrab.

Dari pertemuan itu muncul satu janji penting: warga Gresik cukup bermodalkan KTP dan kemampuan yang dimiliki untuk bisa mengakses lapangan pekerjaan. Janji ini disambut antusias oleh peserta aksi, karena dianggap sebagai langkah maju dalam memberikan ruang bagi tenaga kerja lokal.

Namun, di balik suasana akrab dan kabar baik tersebut, muncul pertanyaan kritis:

  • Apakah janji ini bisa benar-benar diwujudkan secara nyata?
  • Bagaimana mekanisme verifikasi “kemampuan” yang dimaksud?
  • Apakah perusahaan siap menerima tenaga kerja hanya dengan syarat KTP dan skill, tanpa birokrasi berlapis?


Sejarah mencatat, banyak janji politik atau kebijakan publik yang terdengar manis saat aksi massa, namun kerap kandas di tahap implementasi. Karena itu, masyarakat perlu tetap mengawal kesepakatan ini agar tidak berhenti pada level retorika.

Langkah Bupati dan Disnaker patut diapresiasi karena memilih jalur dialog daripada konfrontasi. Namun apresiasi saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah memastikan janji “cukup KTP dan skill” benar-benar berjalan di lapangan, sehingga warga Gresik tidak hanya merasa didengar, tetapi juga merasakan perubahan nyata dalam akses kerja.

Aksi damai ini membuktikan bahwa demonstrasi tidak selalu identik dengan konflik. Justru ketika rakyat dan pemimpin mau duduk bersama, solusi bisa ditemukan. Tinggal, apakah solusi itu sungguh-sungguh dijalankan atau sekadar menjadi penenang sesaat.