Ekonomi Panggung: Saat Politik Mengalahkan Kalkulasi

 


Ekonomi Panggung: Saat Politik Mengalahkan Kalkulasi

Oleh: Rd. Rofik (Pemerhati ekonomi politik dari Gresik)


Pendahuluan: Antara Data dan Cerita

Dalam dunia kebijakan ekonomi, ada dua bahasa yang saling berebut ruang: bahasa angka dan bahasa cerita. Bahasa angka lahir dari disiplin teknokrat—ia berbicara dalam rasio fiskal, inflasi, produktivitas, serta analisis biaya-manfaat. Bahasa cerita, sebaliknya, lahir dari arena politik—ia berbicara dalam slogan, simbol, dan narasi besar yang menggugah imajinasi rakyat.

Indonesia hari ini semakin condong pada bahasa kedua. Ekonomi bukan lagi tentang berapa besar biaya dan manfaat, melainkan seberapa menarik narasi yang dibangun. Kita menyaksikan kelahiran ekonomi panggung, di mana kebijakan lebih sering dipentaskan ketimbang dihitung.


Sejarah Singkat: Dari Tekanan Angka ke Godaan Retorika

Era Orde Baru memberi contoh ekstrem tentang ekonomi berbasis teknokrat. Widjojo Nitisastro dan tim ekonominya menjaga disiplin fiskal, mendorong keterbukaan perdagangan, dan memastikan stabilitas makro. Kebijakan memang tidak selalu ramah sosial, tetapi fondasi pertumbuhan jangka panjang relatif terjaga.

Memasuki era reformasi dan demokrasi elektoral, logika teknokrat itu semakin tersisih. Politik kompetitif menuntut narasi yang bisa dijual cepat ke publik. Akibatnya, slogan seperti hilirisasi, kedaulatan pangan, green economy, hingga ekonomi kerakyatan lebih sering terdengar daripada diskusi serius soal basis data, trade-off fiskal, atau dampak jangka panjang.

Perubahan ini bukan khas Indonesia. Populisme ekonomi juga menguat di berbagai negara, dari Amerika Latin hingga Eropa Timur. Bedanya, di Indonesia, narasi ekonomi tidak hanya dipakai sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi substansi utama kebijakan.


Empat Potret Ekonomi Panggung

1. Subsidi Instan

Diskon tarif listrik dan transportasi digembar-gemborkan sebagai bukti keberpihakan pada rakyat kecil. Rakyat senang, konsumsi terjaga, dan pemerintah panen popularitas. Namun, diskusi publik tentang siapa yang menanggung ongkos subsidi ini dan bagaimana dampak jangka panjang terhadap APBN hampir tak terdengar.

2. Hilirisasi Nikel

Hilirisasi dipromosikan sebagai jalan menuju kedaulatan ekonomi. Narasinya: Indonesia tidak lagi menjadi penjual bahan mentah, tetapi produsen barang bernilai tambah. Namun, kenyataannya banyak smelter masih dibiayai investor asing, sementara diversifikasi industri hilir berjalan lamban. Dampak lingkungan juga jarang masuk ke dalam narasi resmi.

3. Ekonomi Hijau

Transisi energi dan green economy menjadi jargon favorit di forum internasional. Pemerintah bicara soal energi terbarukan dan komitmen emisi nol. Namun di balik layar, subsidi untuk energi fosil tetap besar, bahkan lebih dominan daripada insentif energi hijau. Retorika lingkungan hidup berjalan lebih cepat daripada kebijakan riil.

4. Program Rumah Rakyat

Penyerahan 25 ribu rumah subsidi dipublikasikan dengan gegap gempita. Namun backlog perumahan nasional lebih dari 12 juta unit. Secara statistik, program ini ibarat setetes air di padang pasir. Tetapi dalam logika politik, angka kecil pun bisa dipentaskan sebagai capaian besar.

Keempat contoh ini menegaskan satu hal: cerita lebih kuat daripada angka. Kebijakan menjadi panggung, bukan instrumen teknis.


Bahaya di Balik Retorika

Bahaya utama dari ekonomi panggung adalah lahirnya populisme ekonomi. Ia menawarkan solusi cepat yang indah di mata publik, tetapi mengabaikan fondasi struktural. Beberapa risikonya:

  • Fiskal rapuh: subsidi jangka pendek menggerus ruang fiskal untuk investasi produktif.
  • Investasi enggan: ketidakpastian kebijakan membuat investor ragu menanamkan modal jangka panjang.
  • Masalah menumpuk: backlog perumahan, ketergantungan energi fosil, dan defisit industri tetap tak terselesaikan.
  • Erosi kepercayaan publik: ketika janji manis tak sejalan dengan realitas, kepercayaan rakyat bisa runtuh.


Sejarah dunia memberi banyak pelajaran. Di Venezuela, populisme energi menghancurkan ekonomi. Di Argentina, janji subsidi berulang kali menjerumuskan negara ke krisis fiskal. Indonesia belum sejauh itu, tetapi gejalanya ada: politik mendominasi, kalkulasi mundur.


Rasionalitas yang Hilang

Mengapa rasionalitas begitu mudah tersisih? Pertama, karena angka tidak menarik di mata politik. Publik lebih cepat tergerak oleh cerita “kedaulatan pangan” daripada grafik produktivitas pertanian. Kedua, karena demokrasi elektoral menuntut hasil cepat. Politisi butuh pencapaian yang bisa dijual sebelum masa jabatan habis.

Akibatnya, kebijakan teknis sering dikorbankan. Diskusi tentang keberlanjutan fiskal, kualitas investasi, atau biaya lingkungan dianggap membosankan. Yang penting adalah headline yang menjual.


Menemukan Jalan Tengah

Kita tentu tidak bisa kembali ke era teknokratik yang steril dari partisipasi publik. Demokrasi butuh narasi untuk menggerakkan dukungan. Tetapi narasi seharusnya tidak menggantikan analisis. Yang kita perlukan adalah sintesis:

  • Rasionalitas sebagai fondasi: kebijakan tetap berbasis data, kalkulasi fiskal, dan analisis manfaat jangka panjang.
  • Retorika sebagai jembatan: narasi digunakan untuk menerjemahkan kebijakan teknis agar mudah dipahami rakyat.
  • Transparansi risiko: pemerintah harus berani mengungkap sisi pahit dari kebijakan, bukan hanya menjual sisi manisnya.


Di banyak negara maju, komunikasi kebijakan sudah memadukan dua hal ini. Uni Eropa, misalnya, menjual Green Deal dengan bahasa narasi (“masa depan hijau untuk generasi mendatang”) tetapi tetap melampirkan dokumen teknis penuh angka. Indonesia juga bisa menuju ke arah itu.


Refleksi untuk Masa Depan

Ekonomi panggung mungkin memberi keuntungan politik jangka pendek, tetapi ia rapuh sebagai strategi pembangunan. Dalam jangka panjang, yang membuat negara bertahan bukanlah slogan, melainkan kemampuan menjaga fiskal, meningkatkan produktivitas, dan mengelola sumber daya dengan bijak.

Indonesia berada di persimpangan jalan. Jika terus terjebak dalam logika panggung, kita hanya akan mengulang siklus populisme yang menyenangkan di depan, tetapi menyakitkan di belakang. Namun, jika mampu mengawinkan retorika dan rasionalitas, kita bisa membangun ekonomi yang tidak hanya indah di panggung, tetapi juga kokoh di fondasi.


Penutup: Dari Panggung ke Fondasi

Ekonomi panggung memang gemerlap. Ia memukau publik, memenangkan hati, dan memberi legitimasi politik. Tetapi gemerlap panggung cepat padam. Fondasi rasionalitas jauh lebih menentukan, meski tak selalu terlihat.

Pertanyaannya sederhana: maukah kita terus menonton panggung yang penuh retorika, atau mulai membangun fondasi yang mungkin tak populer, tetapi lebih tahan lama?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan wajah ekonomi Indonesia satu dekade ke depan.