Dana Mengalir Deras, Tapi Tersumbat Kredit Macet
Dana Mengalir Deras, Tapi Tersumbat
Kredit Macet
Kalau musim hujan tiba, air deras turun dari langit.
Harusnya sawah-sawah jadi subur, sungai mengalir lancar, dan desa makmur. Tapi
coba bayangkan kalau irigasinya mampet. Air yang seharusnya jadi berkah justru
menggenang di tempat-tempat yang salah: jadi banjir di kota, bikin jalan macet,
sementara sawah di hilir tetap kering kerontang.
Begitulah kondisi ekonomi kita. Pemerintah sudah guyur dana
hingga ratusan triliun rupiah. Secara teori, ini disebut banjir likuiditas: uang berlimpah di bank, bunga kredit turun,
modal harusnya gampang mengalir ke usaha. Tapi kenyataan di lapangan berbeda.
Kredit macet yang menumpuk jadi bendungan lumpur yang menyumbat jalannya aliran
dana. Hasilnya, dana segar mandek di hulu, sementara rakyat di hilir masih
kesulitan modal.
Bank pun serba salah. Mereka punya uang banyak, tapi takut
menyalurkannya. Resikonya terlalu besar karena kredit macet yang lama saja
belum dibereskan. Alhasil, uang jadi seperti genangan banjir: ada di mana-mana,
tapi tidak bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah.
Dan seperti hukum
alam, air yang tidak mengalir akan cari jalannya sendiri. Kadang lewat
celah-celah yang berbahaya. Kalau tanggul jebol, banjir bandang bisa menghantam
desa. Dalam ekonomi, ini mirip dengan dana yang nyasar ke sektor spekulatif:
bubble properti, judi online, hingga investasi instan yang rapuh. Dari luar
kelihatan gemerlap, tapi dalamnya rapuh seperti tanah longsor menunggu waktu.
Seperti banjir bandang Bali kemarin yang salah kelola lahan, alih lahan yang
berlebihan sehingga banjir bandang. Mismanage. Tata kelola buruk. Banjir
bandang Bali itu simbol sikon Indonesia. Sasmita alam. Tuhan sudah
memperingatkan. Keburukan bencana itu karena ulah kezalimanmu sendiri, karena
Sang Khaliq tidak pernah zalim sedikitpun kepada manusia. (QS. Yunus :44)
Kondisi ini bikin rakyat kecil semakin heran: kok katanya
uang banyak, tapi pinjam modal tetap sulit? Sama saja seperti petani yang
melihat hujan deras tiap hari, tapi sawahnya tetap kering karena saluran
irigasinya mampet. Yang panen besar bukan petani, tapi justru orang-orang yang
kebagian “genangan” di tengah jalan.
Maka, solusinya bukan menambah hujan, tapi memperbaiki
irigasi. Kredit macet harus dibersihkan, direstrukturisasi dengan serius, bukan
sekadar ditutup dengan angka baru. Bank harus berani menyalurkan dana ke sektor
riil, bukan cuma menimbun likuiditas di dalam brankas. Pemerintah pun harus
turun tangan memastikan aliran dana benar-benar sampai ke hilir: UMKM, petani,
nelayan, dan pelaku usaha kecil yang jadi tulang punggung ekonomi.
Air adalah berkah kalau mengalir dengan sehat. Uang pun
sama: kalau tersalur ke arah yang tepat, ia bisa menumbuhkan ekonomi dari akar
rumput sampai pucuk. Tapi kalau dibiarkan tersumbat, ia hanya akan jadi banjir
yang meninggalkan lumpur. Kritik ini bukan untuk menyalahkan, melainkan
mengingatkan: jangan biarkan bendungan kredit macet menghalangi aliran berkah
ratusan triliun yang sudah dikucurkan.
Karena pada akhirnya, rakyat butuh panen, bukan sekadar
banjir.
