Alarm Gagal Bayar: Pasar Global Tolak Eksperimen Fiskal Menkeu Baru

 


Alarm Gagal Bayar: Pasar Global Tolak Eksperimen Fiskal Menkeu Baru

 

Dana Asing Kabur Rp 42 T, CDS RI Meledak: Cermin Kegagalan Politik Ekonomi

Arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia tidak lagi bisa ditutupi jargon “dinamika pasar”. Fakta terbaru: per 22–25 September 2025, investor asing kembali mencatat net outflow Rp 2,17 triliun, memperpanjang tren pelarian modal hingga lima pekan beruntun dengan total lebih dari Rp 42 triliun.

Lebih parah, sepanjang tahun berjalan, asing sudah meninggalkan Rp 51,34 triliun dari saham dan Rp 128,85 triliun dari SRBI, sementara net inflow ke SBN hanya Rp 36,25 triliun. Artinya, lebih banyak modal yang hengkang daripada bertahan.

Di saat bersamaan, Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia melesat ke 83,18 bps, tertinggi sejak Mei 2025. CDS adalah indikator keras dari risiko gagal bayar utang. Kenaikan ini menandakan pasar global tidak percaya pada kredibilitas fiskal dan politik ekonomi RI.

Menkeu Baru, Arah Lama: Agresif Tanpa Prudensi

Kekhawatiran investor bukan hanya soal ekonomi teknis, melainkan juga politik kebijakan. Menteri Keuangan baru dianggap terlalu agresif mendorong belanja tanpa kalkulasi kehati-hatian fiskal. Pesan pasar jelas: Indonesia dinilai sedang bermain api dengan utang.

Alih-alih memperkuat disiplin fiskal, pemerintah justru sibuk membangun narasi populis. Inilah yang membedakan Indonesia dari tetangga seperti Vietnam atau Malaysia, yang mampu menjaga arus modal masuk karena menunjukkan konsistensi kebijakan dan disiplin fiskal.

Koordinasi Politik yang Kacau

Masalahnya bukan hanya pada Menkeu. Koordinasi politik-ekonomi di level kabinet terlihat rapuh. Pesan yang sampai ke pasar internasional adalah kebijakan yang saling bertabrakan: satu pihak bicara stabilitas, pihak lain mendorong program belanja jumbo tanpa basis fiskal kuat.
Investor global membaca ini sebagai ketidakpastian politik, dan modal benci ketidakpastian.

Risiko “Debt Spiral”

Naiknya CDS berarti biaya utang pemerintah semakin mahal. Jika dibiarkan, APBN bisa terjebak dalam spiral: bunga utang naik → biaya pinjaman makin berat → fiskal makin rapuh → risiko gagal bayar makin tinggi.
Situasi ini mengingatkan pada krisis 1998 dalam versi lebih modern: bukan rupiah yang kolaps duluan, melainkan kredibilitas fiskal yang hancur.

Butuh Kejujuran, Bukan Retorika

Pemerintah tidak bisa terus meninabobokan publik dengan retorika “ekonomi aman terkendali”. Kepercayaan global sedang runtuh, dan data CDS adalah buktinya.
Jika pengelolaan fiskal tetap ugal-ugalan, risiko gagal bayar tidak lagi sekadar peringatan akademis, tapi bayangan nyata di depan mata.

Politik ekonomi yang salah arah bisa membuat Indonesia membayar harga paling mahal: kehilangan kepercayaan, kehilangan modal, dan kehilangan kedaulatan fiskal.