Prabowo dan Rakyat yang Terbelit Utang: Antara Cinta yang Diharapkan dan Negara yang Terlambat Hadir

 


Prabowo dan Rakyat yang Terbelit Utang: Antara Cinta yang Diharapkan dan Negara yang Terlambat Hadir

 

Dalam kehidupan rakyat kecil hari ini, utang bukan lagi pilihan, tapi napas bertahan.
Di balik setiap ponsel yang berbunyi karena penagih pinjol, di balik motor yang ditarik leasing, ada kisah tentang orang yang dulu berjuang keras tapi kini kalah oleh sistem yang tak berpihak. Ironisnya, sebagian besar dari mereka bukan penjudi, bukan pemalas, bukan penipu — mereka hanya rakyat yang gagal menahan badai ekonomi yang datang tanpa perlindungan.

Mereka para guru honorer, pedagang kecil, pekerja harian, bahkan karyawan yang dirumahkan tanpa pesangon. Ketika harga naik, penghasilan turun, dan kebutuhan keluarga tak bisa ditunda, mereka menyalakan satu-satunya harapan yang tampak mudah: aplikasi pinjaman online atau leasing dengan janji bunga ringan. Namun, sebagaimana janji dalam politik, janji dalam kredit sering berubah jadi jerat.

Rakyat yang Bangkrut Bukan Karena Judi, Tapi Karena Bertahan Hidup

Dalam berbagai riset sosial, lebih dari separuh pengguna pinjol di Indonesia meminjam bukan untuk konsumsi mewah, melainkan untuk makan, pendidikan anak, dan biaya kesehatan.
Artinya, utang itu lahir dari insting bertahan hidup, bukan dari keserakahan. Mereka adalah korban dari ekonomi yang tidak memberi ruang napas.

Sayangnya, narasi publik sering menempatkan mereka dalam posisi bersalah — seolah kebangkrutan adalah akibat moral pribadi, bukan akibat sistem yang timpang. Padahal, di bawah sistem bunga tinggi dan penagihan ilegal, banyak dari mereka justru menjadi korban perbudakan ekonomi gaya baru.
Negara hadir ketika warganya mencuri, tapi absen ketika mereka ditindas secara legal oleh korporasi.


Tugas Prabowo: Hadir Sebagai Pelindung, Bukan Sekadar Penguasa

Kini, setelah menjadi presiden, Prabowo memiliki kesempatan besar untuk menulis ulang wajah negara: negara yang melindungi, bukan mengintimidasi; negara yang memeluk, bukan menuduh.

Ia sering berbicara tentang kedaulatan pangan, kemandirian bangsa, dan kehormatan rakyat. Namun kedaulatan tidak akan berarti jika rakyatnya hidup di bawah ancaman debt collector dan algoritma fintech.
Kemandirian tidak mungkin lahir dari rakyat yang tiap malam bersembunyi karena tagihan.

Jika Prabowo benar ingin menjadi pemimpin yang dikenang, ia harus menyelami derita rakyat utang — bukan sekadar dari podium, tapi dari kebijakan yang nyata:

  • Moratorium penagihan ilegal yang disertai revisi regulasi pinjol.
  • Program restrukturisasi utang mikro berbasis perlindungan sosial.
  • Lembaga mediasi nasional antara rakyat dan lembaga keuangan, di luar jalur hukum pidana.
  • Edukasi keuangan yang berpihak, bukan sekadar promosi literasi yang disponsori fintech.

Rakyat tidak butuh belas kasihan; mereka butuh keadilan yang berbelas kasih.


Peran Purbaya Yudhi Sadewa: Menkeu Baru, Hati Lama

Dalam pemerintahan Prabowo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kini menjadi figur kunci yang menentukan arah kebijakan fiskal.
Sebagai ekonom yang lama berada di lingkaran kebijakan publik, Purbaya membawa reputasi sebagai teknokrat cerdas dan hati-hati — tapi di hadapannya kini berdiri realitas pahit rakyat yang terjerat utang.

Purbaya pernah menyatakan niat untuk meninjau ulang catatan kredit macet rakyat kecil dalam sistem SLIK OJK, agar tidak menghambat akses mereka pada layanan keuangan dan KPR. Langkah itu patut diapresiasi, tetapi rakyat menunggu lebih:
apakah Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinannya akan berani membuat “kebijakan pemutihan moral” — bukan hanya administratif?

Rakyat yang bangkrut bukan karena judi, tapi karena ekonomi yang tidak adil, seharusnya mendapat ruang pemulihan, bukan stempel gagal bayar seumur hidup.
Purbaya bisa menjadi pelopor dalam menciptakan Fasilitas Penyehatan Ekonomi Rakyat, yaitu skema penyelamatan yang menghapus bunga predator, menghentikan penagihan ilegal, dan membuka kesempatan baru bagi warga yang ingin bangkit tanpa stigma.

Jika Prabowo hadir dengan wibawa politik, maka Purbaya semestinya hadir dengan akal dan empati fiskal.
Keduanya akan menjadi duet yang kuat bila mengingat bahwa angka-angka ekonomi sejatinya mewakili wajah manusia — wajah yang lelah, tapi masih berharap.


Membangun Rasa Aman yang Lebih Dalam dari Sekadar Subsidi

Dalam situasi seperti ini, kehadiran negara tidak cukup hanya dengan bantuan beras SPHP, BLT, atau kartu sembako. Karena seringkali, bantuan itu datang tanpa rasa, hanya angka yang disalurkan.
Yang dibutuhkan rakyat kini adalah rasa aman batiniah — keyakinan bahwa negara tidak akan membiarkan mereka dipermalukan, diancam, dan dihancurkan oleh sistem utang yang brutal.

Prabowo bisa tampil sebagai figur yang menenangkan, bukan dengan pidato keras atau parade militer, tapi dengan bahasa empati:
bahwa rakyat yang jatuh karena utang bukan musuh negara,
mereka adalah keluarga besar bangsa yang harus diangkat kembali.

Dan di titik inilah, Purbaya Yudhi Sadewa harus berdiri di garis depan, memastikan setiap kebijakan fiskal menyentuh hati nurani rakyat, bukan hanya tabel APBN.


Menutup Luka Sosial yang Diam-Diam Membusuk

Utang rakyat hari ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal martabat.
Ia telah menciptakan luka sosial yang membusuk dalam diam — rumah tangga pecah, harga diri hancur, dan kepercayaan pada negara menguap.
Jika Prabowo dan Purbaya berani mengulurkan tangan kepada mereka, itu akan menjadi simbol transformatif bahwa kekuasaan bisa digunakan untuk menyembuhkan, bukan sekadar mengatur.

Karena sejatinya, rakyat tidak menolak pemimpin keras — mereka menolak pemimpin yang tidak punya hati.


“Negara yang besar bukan karena tentaranya kuat, tapi karena rakyat kecilnya tidak takut menghadapi hari esok.”