Ketidakadilan Ekonomi Sebagai Bukti Konkret Disharmoni: Daya Beli Runtuh, Rakyat Mengering, Alam Meledak
Ketidakadilan Ekonomi Sebagai Bukti
Konkret Disharmoni: Daya Beli Runtuh, Rakyat Mengering, Alam Meledak
Ketidakadilan di negeri ini bukan sekadar konsep abstrak; ia
mengeras menjadi angka-angka ekonomi
yang menyakitkan. Daya beli masyarakat merosot tajam, terutama kelas
menengah ke bawah yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Mereka
kehabisan uang bukan karena malas, tetapi karena struktur kebijakan dan alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran.
Program-program yang digagas negara gagal menyentuh rakyat kecil — hanya
berputar di lingkaran sempit elit politik dan ekonomi, menciptakan ekonomi
“kolam tertutup” yang digerakkan oleh segelintir orang, sementara mayoritas
terombang-ambing dalam kekosongan finansial.
Akibatnya, pasar kehilangan denyut kehidupan. Pedagang kecil
merugi, UMKM tumbang, dan konsumsi rumah tangga — indikator paling penting
stabilitas ekonomi mikro — nyaris runtuh. Dalam filosofi kosmik Jawa, ketika rakyat tidak bisa lagi makan, ketika
perut kosong menjadi normal, alam pun tak lagi diam. Ketidakadilan yang
menumpuk di tubuh sosial mengalir sebagai energi gelap yang meresap ke tubuh
bumi.
Erupsi Semeru dalam konteks ini dapat dibaca sebagai letupan besar dari energi ketimpangan yang
tak tertahankan:
- rakyat
menjerit → bumi ikut
menjerit;
- rakyat
ditekan → gunung
meledak;
- rakyat
kehilangan daya beli →
alam kehilangan keseimbangannya;
- uang
hanya berputar di elit →
energi kosmik berhenti mengalir secara merata.
Dalam kearifan Nusantara, keseimbangan (keselarasan antara
manusia–alam–Tuhan) hanya mungkin tercapai ketika keadilan menjadi tulang punggung negara. Ketika keadilan
porak-poranda, maka kehancuran bukan hanya terjadi pada masyarakat, tetapi juga
pada alam yang menaungi mereka.
Letusan Semeru akhirnya menjadi simbol puncak dari paradoks
sosial-ekonomi ini:
rakyat yang kehabisan uang, negara yang
kehilangan moral, dan gunung yang kehilangan kesabaran.
