Daya Beli Warga Indonesia Masih Belum Pulih, Meski Ekonomi Tumbuh Positif
Daya Beli Warga Indonesia Masih Belum Pulih, Meski Ekonomi Tumbuh Positif
Gresikbaik.my.id, 2025 — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2025 tercatat sebesar 5,04% secara year-on-year. Meski demikian, kondisi daya beli masyarakat yang merupakan motor utama perekonomian nasional belum menunjukkan pemulihan yang optimal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III hanya sebesar 4,89%, angka terendah dalam 13 tahun terakhir kecuali masa pandemi Covid-19.
Konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan masih menjadi komponen terbesar dalam perekonomian Indonesia. Namun pertumbuhan yang melambat ini mencerminkan adanya keterbatasan daya beli masyarakat, terutama di lapisan bawah dan menengah, yang menjadi tulang punggung permintaan domestik negara.
Salah satu tekanan utama yang melatarbelakangi perlambatan konsumsi adalah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan data Satudata Kementerian Ketenagakerjaan, sepanjang Januari hingga Juni 2025 terjadi lebih dari 54 ribu pekerja terkena PHK di 81 perusahaan di berbagai sektor industri seperti tekstil, alas kaki, elektronik, logistik, dan perhotelan. Jawa Tengah mencatat jumlah PHK tertinggi diikuti Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Data lain dari Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) menunjukkan total laporan PHK anggota mencapai 126.160 pekerja hingga Oktober 2025, akibat tekanan bisnis dan persaingan produk impor.
Dalam kondisi tersebut, sektor industri pengolahan masih menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan mencapai 5,54% year-on-year triwulan III 2025. Kontribusinya terhadap PDB meningkat menjadi 19,15%, walaupun secara jangka panjang proporsi industri pengolahan relatif menurun, menandakan adanya tren deindustrialisasi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur dari Bank Indonesia mencatat angka 51,66% pada triwulan III, berada di fase ekspansi namun dengan kenaikan yang masih rentan.
Indonesia juga tengah menghadapi tantangan besar dalam memanfaatkan bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif yang diperkirakan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun mendatang. Tanpa penciptaan lapangan kerja yang memadai, risiko peningkatan pengangguran dan ketidakstabilan sosial menjadi nyata. Penurunan signifikan jumlah kelas menengah — turun sekitar 17% antara 2021 hingga 2024 — juga menjadi sinyal melemahnya daya beli dan konsumsi domestik, yang pada gilirannya dapat melemahkan struktur ekonomi nasional.
Kondisi daya beli yang belum pulih serta tingginya angka PHK menimbulkan risiko terhadap legitimasi politik dan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Oleh karena itu, transparansi data ekonomi dan penerapan kebijakan perlindungan tenaga kerja serta program padat karya yang efektif menjadi sangat penting untuk menciptakan pemulihan ekonomi inklusif yang berkelanjutan.
Pemulihan daya beli masyarakat menjadi fondasi utama agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi angka persen yang tinggi, tetapi benar-benar berarti bagi peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dan keberhasilan visi Indonesia Emas 2045.
