Ego Sektoral BPI Danantara vs Menkeu: Rakyat Jadi Penonton?
Ego Sektoral BPI Danantara vs Menkeu:
Rakyat Jadi Penonton?
Rapat Komisi XI DPR RI baru-baru ini menyisakan potret ketidakkompakan elite ekonomi nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang baru saja dilantik menggantikan Sri Mulyani, tampak emosional ketika menanggapi keluhan BUMN soal keterlambatan pembayaran subsidi dan kompensasi. Nada tinggi dan ancaman “buka-bukaan fakta” yang ia lontarkan menunjukkan bukan hanya sengketa teknis, tetapi tarik-menarik otoritas antar-lembaga negara.
BPI Danantara:
Investor Negara dengan Ambisi Luas
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memiliki
mandat strategis dalam mengelola investasi negara dan memayungi BUMN strategis.
Dari posisinya, Danantara seolah menempatkan diri sebagai pemilik kuasa korporasi negara. Tidak heran bila banyak BUMN lebih
memilih “curhat” ke Danantara atau DPR ketimbang langsung menyelesaikan masalah
dengan Kementerian Keuangan.
Namun sikap itu melahirkan friksi. Di mata Menkeu,
kewenangan fiskal negara tetap berada di tangan bendahara negara. BPI Danantara
bisa berperan, tapi tidak bisa menyaingi otoritas kas negara.
DPR: Panggung Aduan,
Bukan Wasit
Di tengah ketegangan itu, DPR—yang seharusnya berfungsi
sebagai wasit—justru lebih tampak sebagai penyalur keluhan. Komisi XI menjadi
ruang di mana BUMN menuding keterlambatan dana, Danantara mengukuhkan
posisinya, sementara Menkeu naik pitam membela kewenangannya. Alih-alih mencari solusi pro-rakyat, sidang
berubah menjadi arena adu gengsi antar-elite.
Ego Sektoral, Rakyat
Jadi Korban
Pertengkaran antara Menkeu, BPI Danantara, dan DPR tidak
bisa dianggap remeh. Ada subsidi energi,
listrik, dan pangan yang nasibnya dipertaruhkan. Jika pencairan subsidi
macet, dampaknya langsung terasa ke masyarakat: harga BBM naik, tarif listrik
mencekik, dan inflasi meroket.
Ketika elite saling sikut soal siapa yang lebih berhak
mengatur BUMN dan kas negara, rakyatlah
yang menanggung beban. Di pasar, di rumah tangga, dan di sawah, masyarakat
menghadapi harga kebutuhan yang semakin tidak terkendali.
Saatnya Reformasi
Tata Kelola
Perebutan kuasa fiskal antara Menkeu dan BPI Danantara
adalah cermin ego sektoral yang
berbahaya. Negara tidak boleh dikelola sebagai ajang rivalitas antar-lembaga.
Koordinasi yang jelas, akuntabilitas transparan, dan orientasi kebijakan yang
berpihak pada rakyat adalah syarat mutlak.
DPR mesti berhenti jadi “panggung curhat” dan kembali ke
fungsinya sebagai pengawas yang berpihak pada publik. Menkeu harus memastikan
kas negara tidak hanya kuat di atas kertas, tetapi benar-benar menopang
kesejahteraan rakyat. Dan BPI Danantara perlu menempatkan diri sebagai penguat,
bukan pesaing otoritas fiskal.
Artikel ini menegaskan bahwa konflik Purbaya–Kemenkeu–BPI
Danantara bukan sekadar persoalan pribadi atau gengsi institusi. Ia adalah
cermin dari betapa pengelolaan negara bisa terjebak dalam perebutan kuasa. Dan
jika tidak segera diatasi, rakyatlah
yang akan terus membayar harga dari ketidakkompakan elite.
