Program MBG di Gresik: Janji Gerakkan Ekonomi Pedagang Belum Terwujud, Pasar Baru Tetap Sepi

 


Program MBG di Gresik: Janji Gerakkan Ekonomi Pedagang Belum Terwujud, Pasar Baru Tetap Sepi

Program MBG di Gresik: Janji Gerakkan Ekonomi Pedagang Belum Terwujud, Pasar Baru Tetap Sepi

Gresik – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejak awal digadang mampu menjadi motor penggerak ekonomi pedagang lokal, kini menuai sorotan. Di Pasar Baru Gresik, para pedagang mengaku belum merasakan dampak positifnya.

Ketua Paguyuban Pasar Baru Gresik, Edy Chumaidi, menuturkan bahwa sejak MBG berjalan, pihaknya tak pernah diajak menjadi pemasok kebutuhan bahan baku program tersebut. Menurutnya, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru lebih memilih menggandeng pemasok bermodal besar yang mampu mengirim barang dengan skema pembayaran ditunda.

“Mungkin banyak pedagang besar yang bisa mensuplai dengan model pembayaran ditunda, sehingga langsung bos besar. Selama ada MBG, Pasar Baru Gresik tetap sepi,” ujar Edy, Minggu (7/9/2025).

Dampak Ganda: Pedagang Tak Terlibat, Pasar Sepi

Selain kecewa tidak dilibatkan, pedagang juga mengeluhkan sepinya aktivitas jual beli di Pasar Baru Gresik. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di Jalan Usman Sadar, Kelurahan Karangturi, pada dini hari antara pukul 00.00–05.00 WIB.

Padahal, pasar resmi seperti Pasar Baru Gresik dan Pasar Krempyeng juga mulai buka sejak tengah malam. Kondisi ini membuat pembeli memilih bertransaksi di luar pasar, yang bebas retribusi dan lebih dekat aksesnya.

“Seharusnya semua pedagang dimasukkan ke Pasar Krempyeng, agar retribusi parkir dan kios bisa dibayar,” tegas Edy.

Pedagang berharap ada penindakan tegas terhadap PKL yang berjualan di luar area pasar resmi, demi menciptakan persaingan yang adil dan pemasukan retribusi yang jelas bagi pemerintah daerah.

Keterbatasan Infrastruktur MBG

Kondisi ini diperburuk oleh fakta bahwa MBG di Gresik masih terkendala keterbatasan dapur produksi. Berdasarkan data DPRD Gresik, hingga pertengahan 2025, dari kebutuhan 174 titik dapur, baru sekitar 9 titik yang beroperasi penuh. Hal ini membuat distribusi MBG belum merata, sehingga pelibatan pedagang lokal juga terbatas.

Komisi IV DPRD Gresik menyebutkan bahwa sebagian besar dapur yang ada belum memenuhi standar BGN dan SPPG, sehingga hanya mengandalkan katering besar yang sudah memenuhi persyaratan.

Analisis: Mengapa Dampak Ekonomi MBG Belum Terasa?

  1. Skema Pengadaan Tertutup – Pemasok besar lebih diutamakan karena mampu menerima pembayaran tertunda, sementara pedagang kecil tidak sanggup menanggung beban modal.
  2. Infrastruktur Terbatas – Sedikitnya dapur MBG aktif membuat jangkauan program sempit, sehingga peluang pemasok lokal berkurang.
  3. Persaingan Pasar Tidak Sehat – PKL yang berjualan di luar jam dan lokasi resmi menyedot pembeli dari pasar tradisional.

Rekomendasi Kebijakan

  • Buka peluang kemitraan bagi pedagang lokal sebagai pemasok MBG, dengan skema pembayaran yang tidak memberatkan modal mereka.
  • Perluasan dapur MBG sesuai target 100 titik hingga Oktober 2025 untuk memperluas jangkauan dan melibatkan lebih banyak pemasok lokal.
  • Penataan PKL dini hari agar seluruh transaksi terpusat di pasar resmi, sekaligus meningkatkan pendapatan retribusi daerah.

Jika langkah-langkah tersebut dilakukan, MBG berpotensi tidak hanya meningkatkan gizi siswa, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat sesuai visi awalnya.