Pinjol & Paylater: Jerat Utang Modern yang Sebaiknya Dihapuskan dari Indonesia
Pinjol &
Paylater: Jerat Utang Modern yang Sebaiknya Dihapuskan dari Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, pinjaman online (pinjol) dan
layanan paylater menjadi fenomena yang merambah hampir seluruh lapisan
masyarakat Indonesia. Dengan proses cepat, syarat mudah, dan promosi yang
agresif, jutaan orang tergoda untuk menggunakan fasilitas ini. Namun, di balik
kemudahan tersebut, tersimpan risiko besar yang merugikan masyarakat dan
perekonomian.
Kerugian Pinjol &
Paylater
- Mendorong Konsumtif dan Hidup di Atas
Kemampuan
Layanan ini memicu perilaku berutang untuk kebutuhan tidak mendesak, menciptakan gaya hidup konsumtif yang sulit dihentikan. - Beban Bunga dan Biaya yang Mencekik
Meski diatur, bunga dan biaya pinjol/paylater jauh lebih tinggi dibandingkan kredit bank. - Tekanan Mental dan Sosial
Stres, depresi, bahkan bunuh diri akibat jerat utang dan penagihan kasar sudah sering terjadi. - Tidak Produktif
Sebagian besar digunakan untuk konsumsi, bukan untuk modal usaha atau peningkatan produktivitas. - Risiko Krisis Keuangan Rumah Tangga
Data OJK Juli 2025 menunjukkan total utang pinjol + paylater mencapai Rp117,52 triliun, yang jika gagal bayar massal bisa mengganggu perekonomian nasional.
Solusi Agar Negara
Menghapus Utang Pinjol Masyarakat
- Audit & Klasifikasi Pinjaman
Pemerintah bersama OJK harus memisahkan antara utang konsumtif murni, utang dengan bunga ilegal, dan utang produktif. Pinjaman dengan bunga melampaui batas wajar dapat dikategorikan sebagai praktik rentenir modern dan dibatalkan. - Program “Debt Amnesty” untuk Rakyat
Kecil
Negara dapat membuat kebijakan penghapusan sebagian atau seluruh utang pinjol bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dengan syarat tidak mengulang utang konsumtif. - Dana Bailout Sosial
Menggunakan dana APBN atau dana CSR BUMN untuk membantu pelunasan utang masyarakat miskin, seperti saat pandemi pemerintah memberikan bansos tunai. - Penutupan Bertahap Pinjol &
Paylater
Pemerintah melarang izin baru dan mencabut izin yang ada, memberi transisi ke kredit mikro berbunga rendah dari koperasi atau bank BUMN. - Edukasi Literasi Keuangan Nasional
Membuat program masif tentang bahaya utang konsumtif, khususnya bagi generasi muda yang paling banyak menjadi korban.
Jika langkah-langkah ini dijalankan, masyarakat tidak hanya
terbebas dari jerat utang, tetapi juga terhindar dari godaan utang konsumtif di
masa depan. Indonesia bisa bergerak menuju ekosistem keuangan yang sehat dan
produktif, tanpa pinjol dan paylater.
