Polemik Ijazah Gibran: Antara Pendidikan Global dan Politisasi Murahan

 


Polemik Ijazah Gibran: Antara Pendidikan Global dan Politisasi Murahan

Polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dipicu Roy Suryo belakangan ini lebih tepat disebut sebagai kontroversi politik, bukan problem akademis. Pasalnya, pakar pendidikan internasional Ina Liem sudah menegaskan bahwa Gibran menempuh jalur Pathway Program, sistem pendidikan resmi yang diakui global.

Pathway: Jalur Resmi, Bukan Jalan Pintas

UTS Insearch memang bukan universitas, tetapi lembaga foundation resmi yang berfungsi sebagai penyetaraan kurikulum antarnegara. Jalur ini bahkan dipakai ribuan pelajar Indonesia untuk masuk universitas top dunia. Sertifikatnya sah dan diakui luas, termasuk oleh MDIS Singapura, tempat Gibran menempuh studi S1.

Artinya, tidak ada masalah dari sisi akademis. Yang bermasalah adalah bagaimana jalur pendidikan internasional ini dipersepsikan dengan kacamata lokal yang sempit.

Politisasi Murahan

Alih-alih melihat fakta pendidikan global, isu ini justru digoreng demi kepentingan politik praktis. Inilah yang disebut politisasi murahan:

  • Mengabaikan data akademis dan lebih memilih spekulasi.
  • Memainkan ketidaktahuan publik soal sistem pendidikan luar negeri untuk menebar keraguan.
  • Menyeret isu serius ke level sensasi murahan demi citra politik.

Dalam konteks ini, politisi yang menggoreng isu ijazah tanpa dasar kuat bisa disebut tengah melakukan manuver politik murahan. Dampaknya jelas: merusak kepercayaan publik, mendeligitimasi lawan politik, dan menyesatkan generasi muda soal jalur pendidikan global.

Momentum Literasi Pendidikan

Daripada terjebak dalam permainan murahan, isu ini seharusnya dijadikan momentum untuk memperkuat literasi pendidikan global di Indonesia. Bahwa ada banyak jalur resmi untuk kuliah di luar negeri: foundation, O-level, A-level, IB, hingga bridging program. Semua sah, semua diakui.

Jika pendidikan terus dijadikan alat framing politik, maka yang dirugikan bukan hanya Gibran, tapi juga kualitas demokrasi dan masa depan generasi muda.


👉 Singkatnya, ijazah Gibran sah secara akademis, tapi dipelintir melalui politisasi murahan.