Operasi Penyelamatan Berskala Besar Dilakukan Pasca Ambruknya Pondok Pesantren
Sidoarjo, Jawa Timur – Sebuah insiden memilukan terjadi di
Sidoarjo, Jawa Timur, di mana sebuah pondok pesantren ambruk. Marsekal Madya
Mohammad Syafii, Kepala Basarnas, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah
ini, terutama kepada keluarga korban dan anak-anak yang masih belum ditemukan.
Ia menekankan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian langsung terhadap
kejadian ini, yang telah dinyatakan sebagai kategori bencana.
Basarnas merespons dengan cepat, menerima laporan kejadian dalam waktu 38 menit dan segera mengirimkan tim pertama serta tim kedua ke lokasi. Sebanyak 65 instansi dengan total 379 personel terlibat dalam operasi gabungan ini, termasuk Kepala BNPB yang hadir langsung di lokasi.
Marsekal Madya Mohammad Syafii menjelaskan bahwa kondisi di
lokasi kejadian adalah reruntuhan dari bangunan tiga lantai, dengan lantai
keempat yang sedang dalam tahap pembangunan. Jenis keruntuhan ini
diklasifikasikan sebagai "pancake collapse", yang berarti material
beton bertumpuk. Karena kondisi ini, penanganan khusus sangat diperlukan.
Dengan fasilitas dan teknologi yang dimiliki, tim SAR
mendeteksi masih ada beberapa korban yang berpotensi untuk diselamatkan.
Basarnas mengirimkan tim khusus (Special Group) dari kantor pusat, serta
mengerahkan kantor SAR dari Yogyakarta dan Semarang, dilengkapi dengan
peralatan khusus untuk operasi penyelamatan.
Teknologi seperti detektor dan drone termal digunakan untuk
menemukan korban yang masih hidup atau telah meninggal, dengan mendeteksi suhu
tubuh manusia yang beraktivitas. Namun, kehadiran banyak orang di lokasi dapat
menghambat kinerja alat-alat ini, sehingga diperlukan area yang steril.
Prinsip Basarnas, sejalan dengan visi Search and Rescue
International, adalah bahwa satu nyawa adalah aset negara yang tidak ternilai,
terutama anak-anak. Operasi ini dilakukan dengan sangat serius dan profesional,
sesuai dengan aturan yang berlaku.
Untuk menjangkau titik korban, tim harus membuat terowongan
di bawah tanah, sebuah tindakan yang berisiko karena adanya potensi longsoran
kecil dari tumpukan beton lama yang menjadi konstruksi dasar bangunan. Meskipun
secara teori "golden time" untuk penyelamatan adalah 72 jam, Basarnas
berupaya untuk secepat mungkin menjangkau korban yang terdeteksi masih hidup,
menyuplai minuman, vitamin, dan infus agar mereka bisa bertahan lebih lama.
Komunikasi perkembangan operasi akan disampaikan secara berkala kepada
masyarakat, setidaknya setiap dua hari sekali.
