AI sebagai Mesin Kekuasaan Global: Jejaring Yahudi-Amerika vs Teknokrasi Tiongkok

 


AI sebagai Mesin Kekuasaan Global: Jejaring Yahudi-Amerika vs Teknokrasi Tiongkok

Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi medan perebutan kekuasaan multi-layer: bukan sekadar persaingan teknologi, melainkan persaingan nilai, kontrol epistemologi, dan dominasi infrastruktur global. Mereka yang menguasai data, chip, dan narasi desain AI memiliki kemampuan untuk mengarahkan bagaimana manusia berpikir, bertindak, dan berinteraksi di masa depan.

Berikut ini analisis geopolitik yang menggabungkan fakta biografis, dokumen kebijakan nasional, serta pernyataan tokoh kunci.


1. Jejaring Inovasi Yahudi-Amerika dan Konsentrasi Kekuasaan

Banyak tokoh kunci AI besar memiliki latar belakang diaspora Yahudi-Amerika — bukan sebagai semacam stereotip, melainkan sebagai elemen dalam struktur sosial-intelktual yang berpengaruh:

  • Sam Altman (OpenAI) — CEO OpenAI, yang secara terbuka pernah berbicara tentang bagaimana AI dan kebijakan global saling terkait. Dalam diskusi “Shifting Geopolitics in the Age of AI,” Altman menyebut bahwa AI akan mempercepat kebutuhan infrastruktur (data center, chip) dan menyusul bahwa “keterbatasan komputasi adalah hambatan nyata” terhadap pengembangan AI skala besar. Brookings
  • Dalam wawancara mahasiswa Harvard, Altman menyebut bahwa regulasi sebaiknya bersifat adaptif—bahwa kebijakan perlu mengikuti laju ilmu (“downstream from the science”) daripada mendikte terlalu awal. HKS Student Policy Review

Jejaring modal, akademik, dan korporasi di AS telah lama dipengaruhi oleh koneksi diaspora, lembaga riset elit, universitas, dan modal ventura. Dalam konteks AI, ini berarti bahwa akses ke pendanaan, koneksi politik, dan peluang kolaborasi riset sering terpusat dalam lingkaran sosial-intelektual tertentu.

Akibatnya, dominasi AI Barat tidak hanya soal teknologi, tapi soal siapa yang punya akses ke:

  • Data besar dan eksklusif
  • Chip dan pusat data (infrastruktur)
  • Jalur regulasi dan legitimasi global

Salah satu simbol konsolidasi ini adalah proyek Stargate LLC, sebuah joint venture di mana OpenAI, SoftBank, Oracle, dan pihak lainnya berinvestasi miliaran dolar untuk memperluas infrastruktur AI global. Wikipedia

Menurut laporan “Trajectories and Comparative Analysis of Global Countries Dominating AI Publications, 2000–2025”, Tiongkok berhasil melejit dari <5% proporsi publikasi AI global (tahun 2000) menjadi ~36% pada 2025, sementara porsi AS + UE turun dari ~57% menjadi <25%. Ini menunjukkan bahwa dominasi riset kini makin multipolar. arXiv


2. Strategi Tiongkok: Rencana Negara, Replikasi, & Kendali Informasi

Tiongkok mengadopsi pendekatan berbeda: AI bukan sekadar pasar atau eksperimen ilmiah, tapi bagian dari strategi negara untuk kedaulatan teknologi dan kekuasaan:

  • Pada tahun 2017, Tiongkok merilis “New Generation Artificial Intelligence Development Plan (AIDP)” sebagai blueprint nasional yang menetapkan target agar Tiongkok menjadi pemimpin global AI pada 2030. DigiChina+1
  • Risiko ketergantungan impor chip dan teknologi diakui secara terbuka. Pemerintah Tiongkok mengejar “kemandirian inti” (core self-reliance) dalam elemen-elemen AI kritis. CNAS+1
  • Regulasi AI generatif (Interim Measures for the Management of Generative AI Services) diberlakukan pada Agustus 2023, untuk mengatur layanan AI publik dan membatasi konten tak diinginkan. Wikipedia
  • Berdasarkan analisis CSET, publikasi kebijakan AI Cina semakin eksplisit menetapkan peran lembaga negara dalam pengawasan, atribusi tanggung jawab, dan regulasi algoritma. cset.georgetown.edu

Dalam pendekatan ini, Tiongkok melakukan strategic imitation—mereka mempelajari arsitektur Barat, memodifikasi dan menyesuaikannya dalam sistem yang lebih terkontrol secara negara. Tapi yang penting: mereka tidak sekadar meniru, melainkan merasionalisasi kembali desain AI di bawah kendali partai negara dan sistem keamanan informasi.

Institut seperti Institute for AI International Governance (I-AIIG) di Universitas Tsinghua memainkan peran konseptual dalam merumuskan kebijakan dan retorika global AI dari perspektif Tiongkok. aiig.tsinghua.edu.cn+1


3. Titik Persinggungan & Ketegangan U.S.–China dalam AI

Ketegangan antara model AI Barat dan Tiongkok muncul di berbagai bidang:

  • AS memberlakukan kontrol ekspor (export controls) atas chip maju untuk membatasi kemampuan perusahaan Tiongkok dalam mengakses komponen kritis AI. arXiv+1
  • Meski ada persaingan strategis, ada ruang kerjasama di bidang standar keamanan, transparansi algoritma, dan tata kelola global. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa meskipun model regulasi berbeda, masih terdapat titik kesepahaman potensial antara AS dan China. arXiv
  • Inisiatif dialog seperti Brookings–Tsinghua Track-II Dialogue mencoba membuka saluran informal di luar diplomasi formal untuk memahami konsep kedaulatan AI, definisi “risiko autopilot,” dan istilah-istilah teknis dalam bahasa netral. Brookings

Namun konflik struktural tetap kuat: Barat menekankan nilai transparansi, keamanan demokratis, dan perlindungan individu; Tiongkok menekankan kontrol, stabilitas sosial, dan keamanan nasional.


4. Kesimpulan: AI sebagai Arena Kekuasaan Epistemik

Dari kombinasi data dan fakta, kita dapat merumuskan kerangka inti:

  1. AI bukan netral — ia dipengaruhi oleh nilai, mode organisasi, dan jaringan sosial pembuatnya.
  2. Dominasi Barat dalam fase awal AI dibangun atas struktur diaspora, akses modal, dan infrastruktur riset; tetapi kini menghadapi tantangan dari kebangkitan Tiongkok.
  3. Model Tiongkok menarik karena menggunakan negara sebagai “platform eksperimental”—yakni menjadikan kontrol informasi, regulasi algoritma, dan kebijakan data sebagai bagian dari strategi nasional.
  4. Konfrontasi dan koeksistensi: meski AS dan China terlibat kompetisi keras, ada kebutuhan normatif dan teknis agar standar global AI tidak terpecah menjadi dua “blok kode.”