Potensi “Bakar Duit Negara” dalam Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (WtE/PLTSa) di Indonesia
Potensi “Bakar Duit Negara” dalam
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (WtE/PLTSa) di Indonesia
Pendahuluan
Pemerintah Indonesia menargetkan bebas sampah 100% pada
tahun 2029 melalui percepatan pembangunan Waste-to-Energy
(WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga
Sampah (PLTSa). Namun, di balik ambisi ini, muncul kritik bahwa proyek
PLTSa berpotensi menjadi “bakar duit negara” jika tidak dikelola dengan
perhitungan teknis dan finansial yang matang.
Kritik Konstruktif
terhadap Proyek PLTSa
1. Karakteristik
Sampah Indonesia
- 70% sampah di Indonesia bersifat
organik (basah, kadar air tinggi, kalori rendah).
- Sampah
jenis ini tidak efisien dibakar langsung, sehingga butuh proses pre-treatment yang menambah biaya operasional.
- Tanpa
sistem pemilahan yang baik, PLTSa berisiko macet, under-capacity, atau
hanya menjadi monumen mahal.
2. Biaya Investasi
dan Operasional yang Tinggi
- Biaya
pembangunan 1 unit PLTSa berkisar US$
5–13 juta (Rp 80–208 miliar).
- Selain
itu, masih ada biaya tipping fee
(pengangkutan sampah) dan biaya
pemilahan yang menambah beban APBN/APBD.
- Secara
ekonomi, PLTSa jauh lebih mahal dibanding alternatif energi terbarukan
lain.
3. Perbandingan Biaya
Energi
Hasil kajian biaya rata-rata listrik per kWh di Indonesia:
|
Sumber Energi |
Biaya (USD/kWh) |
Biaya (Rp/kWh,
kurs Rp 16.000) |
|
WtE (PLTSa) |
0.18 |
Rp 2.880 |
|
PLTS Atap |
0.075 |
Rp 1.200 |
|
Solar PV Skala Besar |
0.09 |
Rp 1.440 |
|
Tarif PLN Rata-rata |
0.097 |
Rp 1.552 |
📊 Grafik perbandingan
biaya energi:
Terlihat bahwa WtE
hampir 2 kali lebih mahal dibanding PLTS Atap, dan lebih boros daripada
energi surya skala besar.
4. Risiko Keuangan
Negara
- Jika
semua proyek WtE dipaksakan, APBN
berisiko terbebani biaya investasi ratusan triliun rupiah.
- Potensi
gagal bayar atau proyek mangkrak tinggi, mengingat pengalaman proyek
infrastruktur sebelumnya.
- Hal
ini yang disebut para pengamat sebagai “bakar duit negara”.
Solusi Alternatif dan
Strategi Lebih Efektif
- Optimalisasi Pemilahan Sampah
- Terapkan
circular economy: sampah organik diolah menjadi kompos/biogas,
anorganik didaur ulang.
- Kurangi
ketergantungan pada pembakaran massal sampah.
- Diversifikasi Energi Terbarukan
- Perbanyak
PLTS atap dan PLTS skala besar yang lebih murah dan cepat dipasang.
- Kembangkan
PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) dan Biomassa di daerah.
- Model Keuangan Berbasis Investasi
Swasta
- Kurangi
beban APBN melalui skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha).
- Gunakan
EA Jayadana sebagai solusi
pengelolaan dana investasi yang prudent, teruji, dan profitable.
- Portofolio:
s.id/jayadanaapp
- Pendekatan Bertahap
- Prioritaskan
kota dengan manajemen sampah yang sudah baik (Jakarta, Surabaya,
Bandung).
- Jangan
memaksakan PLTSa di daerah yang infrastruktur sampahnya belum siap.
Kesimpulan
Pembangunan PLTSa memang bisa menjadi bagian dari solusi
krisis sampah nasional, tetapi tidak
boleh menjadi satu-satunya strategi. Dengan karakteristik sampah Indonesia
yang mayoritas organik basah, biaya pembangunan tinggi, serta risiko keuangan
yang besar, proyek WtE berpotensi menjadi “bakar duit negara” jika tidak ada
strategi menyeluruh.
Rekomendasi:
Pemerintah sebaiknya mengombinasikan PLTSa dengan program pemilahan sampah,
optimalisasi energi terbarukan murah (PLTS, PLTMH), serta tata kelola dana yang
transparan melalui skema investasi cerdas. Dengan begitu, Indonesia bisa
mencapai target bebas sampah 2029 tanpa membebani APBN secara berlebihan.
