Misteri Pergantian Sri Mulyani: Purbaya Hadapi Bom Waktu Fiskal
Misteri Pergantian
Sri Mulyani: Purbaya Hadapi Bom Waktu Fiskal
Pergantian Sri Mulyani Indrawati dari kursi Menteri Keuangan
setelah lebih dari 15 tahun menjabat menimbulkan tanda tanya besar. Presiden
Prabowo Subianto memang telah melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai
penggantinya, namun alasan pasti di balik keputusan tersebut masih menjadi
misteri.
Di tengah ketidakjelasan ini, muncul dugaan publik bahwa
pergantian ini terkait insiden penjarahan kediaman Sri Mulyani — yang
disebut-sebut sebagai akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan fiskal
yang dianggap tidak pro rakyat. Jika benar, langkah ini berpotensi memicu
keguncangan kepercayaan dari dunia usaha, pasar, dan masyarakat.
“Kalau pergantian ini karena tekanan akibat penjarahan,
dampaknya bisa fatal bagi stabilitas ekonomi,” tegas pengamat ekonomi Fadhil.
“Siapapun Menkeunya, masalah fiskal Indonesia saat ini tidak punya pilihan
mudah.”
Sinyal Perubahan:
Celios Sebut Angin Segar
Center of Economics and Law Studies (Celios) justru
menyambut positif pergantian ini. Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira,
menilai Sri Mulyani gagal mengawal pajak berkeadilan, mengelola belanja negara
dengan hati-hati, dan membatasi beban utang yang kian menjerat ruang fiskal.
“Tugas paling mendesak Menkeu baru adalah mengembalikan
kepercayaan publik,” ujar Bhima.
Celios menyatakan akan mengawal kebijakan Purbaya secara
kritis, berbasis data, dan tanpa kompromi.
PR Berat: Purbaya di
Tengah Tekanan Politik dan Pasar
Menurut Celios, setidaknya ada lima pekerjaan rumah mendesak
yang menanti Purbaya:
- Reformasi Pajak Berkeadilan
- Turunkan
PPN menjadi 8%.
- Naikkan
PTKP menjadi Rp7 juta/bulan agar daya beli masyarakat menengah-bawah
tidak tergerus.
- Efisiensi Anggaran Tanpa Mengorbankan
Rakyat
- Hentikan
pemangkasan transfer daerah yang memicu kenaikan pajak daerah dan
membebani masyarakat.
- Restrukturisasi Utang Negara
- Negosiasi
debt swap untuk transisi energi dan konservasi alam.
- Upayakan
pembatalan utang yang merugikan negara.
- Bersihkan Kemenkeu dari Rangkap
Jabatan
- Copot
pejabat yang rangkap jabatan di BUMN sesuai putusan MK.
- Audit dan Transparansi Insentif Fiskal
- Periksa
perusahaan penerima tax holiday dan tax allowances.
- Hentikan
insentif yang memperlebar kesenjangan antara konglomerat dan UMKM.
Ancaman Bom Waktu
Jika Purbaya gagal meredam ketegangan fiskal, ruang gerak
pemerintah akan semakin sempit, sementara tekanan publik dan pasar akan
meningkat. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari neraca APBN, tetapi juga
dari kemampuannya mengembalikan rasa percaya rakyat pada kebijakan negara.
Pergantian ini bisa menjadi momentum reformasi besar-besaran
di Kementerian Keuangan, atau justru menjadi awal dari krisis kepercayaan yang
lebih dalam.
Kata "fiskal"
berasal dari bahasa Latin yaitu fiscus,
yang artinya keranjang uang atau
perbendaharaan negara.
- Dalam
bahasa Latin, fiscus merujuk pada tempat penyimpanan uang atau dana
milik kaisar Romawi.
- Dari
Latin, kata ini masuk ke bahasa Belanda sebagai fiscaal, lalu ke
bahasa Indonesia menjadi fiskal,
dengan makna yang berkaitan dengan keuangan
negara, pajak, dan anggaran.
