Jerami di Mulut Menteri: 10 Hari Menuju Maut François Foullon (Full)

 




Jerami di Mulut Menteri: 10 Hari Menuju Maut François Foullon

Paris, Juli 1789 — Kota ini bagai tungku besi raksasa, panas oleh kemarahan yang mendidih. Bau keringat bercampur debu jalanan, suara pedagang yang merintih karena harga gandum melambung, dan teriakan protes di gang-gang sempit menjadi latar sehari-hari.

Perut rakyat kosong, tetapi istana Versailles di kejauhan tetap bersinar emas di bawah matahari musim panas. Dunia bangsawan dan dunia rakyat sudah terpisah bagai bumi dan langit. Namun jurang itu sebentar lagi akan runtuh—dengan darah.


Penunjukan yang Membakar Amarah

Di tengah krisis, Raja Louis XVI membuat keputusan yang tak disangka. Ia memecat Jacques Necker, Menteri Keuangan yang dicintai rakyat karena mencoba membela kepentingan mereka, lalu menunjuk François Foullon de Doué sebagai pengganti.

Bagi rakyat, Foullon bukanlah nama baru. Ia adalah simbol kebekuan hati aristokrasi: kaya raya, sombong, dan dingin terhadap penderitaan. Desas-desus yang tak pernah benar-benar terkonfirmasi—namun dipercaya mentah-mentah—menyebutkan bahwa ia pernah berkata kepada petani yang kelaparan:

“Kalau mereka tidak punya roti, biarlah mereka makan jerami.”

Kata-kata itu, benar atau tidak, menjadi racun yang menyebar di lidah rakyat. Dalam masa lapar, rumor lebih tajam dari pedang.


Hari-Hari Menuju Badai

Foullon hanya sempat duduk di kursi menteri selama sepuluh hari. Dalam waktu singkat, Paris menjadi lautan amarah. 14 Juli 1789, rakyat menyerbu Bastille—simbol tirani. Berita itu menyebar cepat, menggelorakan keberanian. Mereka mulai menargetkan semua tokoh yang dianggap pengkhianat rakyat.

Foullon sadar dirinya termasuk dalam daftar itu. Ia memilih menghilang. Ia memalsukan kematiannya, berharap nama dan wajahnya menguap dari ingatan massa. Namun, takdir punya rencana lain.

Di sebuah desa kecil, ia ditemukan bersembunyi. Tangannya diikat kasar, wajahnya pucat, matanya memandang ke tanah. Ia bukan lagi menteri, bukan lagi bangsawan—hanya seorang pria tua yang diiringi ke Paris oleh kerumunan yang lapar akan keadilan.


Paris Menyambut

Hari itu, udara di Hôtel de Ville (balai kota Paris) bergetar oleh teriakan ribuan orang. Ketika Foullon tiba, kerumunan berdesakan, ingin melihat dari dekat sosok yang selama ini hanya mereka dengar lewat cerita kemarahan.

Tak ada meja hakim, tak ada sidang. Rakyat menjadi penuduh, hakim, dan algojo sekaligus. Seorang lelaki muda maju ke depan, wajahnya penuh keringat dan amarah. Ia mengeluarkan segenggam jerami, menyumpalkannya ke mulut Foullon.

“Inilah makanan yang kau tawarkan pada kami, Tuan Menteri. Rasakan!”

Jeritan dan sorakan mengguncang udara. Setiap mata memandang Foullon bukan sebagai manusia, tetapi simbol penindasan yang harus dipatahkan.


Tiang Gantung Place de Grève

Dari balai kota, Foullon diseret ke Place de Grève, tempat di mana eksekusi publik sering digelar. Sebuah tiang gantung sudah tegak, tali melambai di bawahnya.

Massa mendesak, napas mereka memburu. Sebagian memegang senjata seadanya—tombak, pisau dapur, tongkat kayu. Foullon diangkat ke atas, lehernya dimasukkan ke jerat tali. Dalam hitungan detik, tubuhnya menggantung.

Namun, tali itu putus. Ia jatuh keras ke tanah, batuk tercekik. Sebagian kerumunan terperangah, sebagian lain tertawa liar. “Coba lagi!” teriak mereka. Foullon digantung untuk kedua kalinya. Tali itu… kembali putus.

Bagi sebagian orang, itu pertanda dari langit. Tapi bagi massa yang sudah haus darah, itu hanya alasan untuk membuat akhir yang lebih brutal. Mereka memutuskan mengakhiri nyawanya dengan tangan sendiri. Tanpa guillotine, kepala Foullon dipenggal dengan senjata seadanya.


Arak-arakan Jerami dan Darah

Kepala itu diangkat tinggi-tinggi. Mulutnya masih tersumpal jerami, darah mengucur di pipi pucatnya. Sorak-sorai meledak. Tubuhnya yang tak bernyawa dibiarkan di tanah, sementara kepalanya diarak keliling Paris.

Di setiap sudut kota, orang melihat jerami di mulut Foullon dan tahu artinya: kesombongan telah dibalas dengan kemarahan.


Versailles yang Sunyi

Jauh di Versailles, cahaya sore memantulkan kemewahan istana. Raja Louis XVI duduk di singgasananya, mencoba menutupi kegelisahan dengan ketenangan pura-pura.

Seorang kurir berlari masuk, lututnya bergetar.

“Yang Mulia… François Foullon… dibunuh oleh massa. Kepala beliau… diarak… dengan mulut tersumpal jerami.”

Keheningan menelan ruangan. Louis menunduk, memejamkan mata. Ia mengerti—ini bukan sekadar kematian seorang menteri. Ini adalah ancaman yang mengetuk pintu istana.

Di sudut ruangan, Marie Antoinette berbisik pada dayangnya, tatapannya menerobos jendela ke arah Paris. “Paris semakin dekat,” gumamnya. Yang ia maksud bukan jarak, melainkan badai revolusi yang sedang bergerak seperti gelombang hitam menuju tahta.


Pelajaran dari Jerami

Kematian Foullon hanyalah bab awal dari gelombang kekerasan yang akan mengubah Prancis selamanya. Tetapi jerami di mulutnya menjadi simbol yang tak akan hilang—peringatan keras dari rakyat kepada para penguasa.

Kesombongan di hadapan penderitaan rakyat bukan hanya kesalahan moral; itu adalah undangan untuk dihukum.
Dalam masa lapar, kata-kata arogan bisa berubah menjadi tali di leher. Dan di tengah amarah yang menyala, keangkuhan bisa berakhir di ujung pisau.

 

Epilog: Jerami, Kepala, dan Gelombang Revolusi

Kematian François Foullon bukanlah akhir, melainkan awal dari rangkaian eksekusi yang mewarnai hari-hari pertama Revolusi Prancis.

Hanya beberapa jam setelah Foullon dipenggal, menantunya, Bertier de Sauvigny, yang menjabat sebagai Intendant of Paris, juga ditangkap. Ia dikenal sebagai pejabat yang memegang kendali distribusi pangan di Paris—dan karena itu, dituduh ikut memperburuk kelaparan rakyat.

Bertier tak sempat membela diri. Di perjalanan menuju Hôtel de Ville, ia berpapasan dengan arak-arakan kepala mertuanya. Massa yang melihat dua “pengkhianat” dalam satu hari tak mau menunggu pengadilan. Bertier dibunuh di tempat. Kepalanya dipancangkan di ujung tombak—dengan kepala Foullon di tombak satunya. Kedua kepala itu dibawa beriringan, simbol keluarga bangsawan yang “dihukum” oleh rakyat.

Dalam minggu-minggu berikutnya, Paris menjadi panggung eksekusi spontan. Pejabat, perwira, bahkan pedagang kaya yang dianggap menimbun pangan menjadi sasaran. Batas antara keadilan dan balas dendam kabur.

Gelombang ini tak berhenti di menteri atau pejabat. Beberapa tahun kemudian, badai yang sama akan sampai ke Raja Louis XVI dan Marie Antoinette sendiri. Pisau guillotine yang belum ada saat Foullon dieksekusi, kelak akan menjadi mesin kematian paling terkenal di Eropa.

Kisah Foullon mengingatkan bahwa dalam sejarah, satu kepala yang jatuh sering kali menjadi tanda bahwa banyak kepala lain akan menyusul.
Dan jerami di mulutnya tetap menjadi lambang abadi—peringatan bahwa kesombongan terhadap penderitaan rakyat adalah undangan untuk menghadapi akhir yang mengerikan.