Bank Sentral Sudah Longgar, Bank Komersial Masih Serakah

 



Bank Sentral Sudah Longgar, Bank Komersial Masih Serakah

 

Bank Indonesia (BI) baru saja menurunkan suku bunga acuan sebagai bagian dari upaya menstimulasi perekonomian. Secara teori, langkah ini mestinya membuat biaya dana (cost of fund) lebih murah, sehingga bunga kredit yang ditanggung debitur ikut turun. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: penurunan suku bunga acuan tidak serta-merta dirasakan masyarakat maupun dunia usaha.

Kenapa Bisa Terjadi?

Pertama, biaya dana masih tinggi.
Bank harus bersaing menarik dana pihak ketiga (tabungan dan deposito). Untuk menjaga likuiditas, mereka rela menawarkan bunga simpanan yang cukup menarik, sehingga ongkos dana tetap mahal.

Kedua, margin bank harus dijaga.
Perbankan bekerja dengan logika spread—selisih antara bunga simpanan dan bunga kredit. Bila bunga simpanan tidak turun, bunga kredit pun enggan diturunkan karena akan menggerus profitabilitas.

Ketiga, special rate bagi deposan besar.
Nasabah kaya sering meminta bunga simpanan lebih tinggi dari standar. Bank terpaksa menuruti karena dana jumbo mereka menjadi tulang punggung likuiditas. Konsekuensinya, ruang penurunan bunga kredit semakin sempit.


Persaingan Dana dan Sikap Hati-Hati Bank

Dalam kondisi likuiditas yang belum longgar, bank lebih memilih berhati-hati. Menurunkan bunga deposito terlalu cepat bisa berisiko mengalihkan dana pihak ketiga ke kompetitor. Akibatnya, transmisi moneter berjalan lambat: BI sudah longgar, tapi pasar dana masih kaku.


Implikasi bagi Dunia Usaha dan Masyarakat

Kredit yang tetap mahal berarti biaya pinjaman tak kunjung turun. Bagi dunia usaha, terutama UMKM, hal ini menjadi beban tambahan dalam ekspansi dan investasi. Stimulus moneter yang diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi akhirnya kehilangan daya dorong optimal.


Catatan Kritis dari BI

Bank Indonesia menegaskan, hambatan saat ini bukan lagi semata faktor kebijakan moneter. Persoalan utamanya justru ada pada kemauan perbankan untuk menyalurkan manfaat penurunan suku bunga kepada debitur. Tanpa keberanian bank menurunkan bunga kredit, penyesuaian BI Rate hanya akan berhenti di tataran simbolik.


Kesimpulan

Problem ini memperlihatkan lemahnya transmisi moneter di Indonesia. Penurunan suku bunga acuan tidak otomatis menjadi penurunan bunga kredit karena bank menahan diri dengan berbagai alasan: biaya dana tinggi, margin yang harus dijaga, dan tekanan dari deposan besar.

Artinya, pekerjaan rumah terbesar bukan lagi di Bank Indonesia, melainkan di tubuh perbankan sendiri. Tanpa perubahan sikap dan strategi, bunga kredit akan tetap mahal, dan stimulus ekonomi hanya menjadi janji yang tak sampai ke rakyat.