Negara Paling Islami Versi Husain Askari




The Prophet Muhammad (peace be upon him) said: “Verily, the bankrupt of my nation are those who come on the Day of Resurrection with prayers, fasting and charity, but also with insults, slander, consuming wealth, shedding and beating others.” -HR Muslim


“Sesungguhnya orang-orang yang bangkrut dari bangsaku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa dan sedekah, namun juga dengan hinaan, fitnah, memakan harta, menumpahkan dan memukuli orang lain.”


“Islam is the best religion and Muslims are the worst followers”. - Lord Bernard Shaw.

“Islam adalah agama yang terbaik dan umat Islam adalah pengikut yang paling buruk”. - Bernard Shaw.


Fenomena yang sangat mencengangkan bahwa ajaran, etika, atau nilai Islam lebih banyak diterapkan di negara-negara Barat daripada di negara-negara Islam. Terutama diterapkan dalam kehidupan  politik, hukum, ekonomi, bisnis, dan masyarakat. Bahkan sampai tiga puluh besar masih dimiliki oleh sejumlah negara Barat.


Berdasarkan hasil riset Prof. Hussain Askari dari George Washington University USA yang dilakukan sejak tahun 2010 secara rutin tahunan, yang ditunjukan untuk mengetahui indeks keislaman dalam menganalisis hak politik, hubungan internasional, tindakan HAM, hukum dan ekonomi yang menggunakan ayat-ayat Al Qur-an dan matan-matan As Sunnah yang relevan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara yang menerapkan prinsip-prinsip Islam bukan dari negara-negara Islam. Berdasarkan urutan rankingnya sebagai berikut: New Zealand ke-1, Luxembourg ke-2, Ireland ke-3, Iceland ke-4, Finland ke-5, Denmark ke-6, Canada ke-7, Malaysia ke-38, Kuwait ke-48, Bahrain ke-64, Indonesia ke-74 dan mengejutkan bahwa Kingdom of Saudi Arabia ke-131.


Adapun berdasarkan riset Hussain Askari tahun 2018 menunjukkan hasil yang relatif sama dengan urutan ranking : New Zealand ke-1, Sweden ke-2, Holland ke-3, Iceland ke-4, Switzerland ke-5, dan Ireland ke-6. Sementara yang dari negara Islam, secara berurutan United Arab Emirate (UAE) ranking ke-45, Albania ke-46, Malaysia ke-47, Qatar ke-48, Indonesia ke-64, Turkey ke-70.


Mengapa negara-negara Islam menunjukkan skor indeks keislaman yang berada di bawah? Hal ini terjadi karena ditemukan masyarakat-masyarakatnya masih banyak yang terjebak dengan perilaku tidak adil, tindakan korupsi dan perilaku terbelakang. Iman yang dimiliki belum ikut mewarnai perilaku kesehariannya di tengah-tengah publik. Ibadah amnya belum mewujudkan. Mereka baru kuat di ibadah khasnya.  Imannya baru terefleksi dalam berbagai ritual keagamaan, baik itu sholat, puasa, zakat atau haji saja. Hal ini perlu mendapat perhatian yang serius. Alhamdulillah Indinesia menunjukkan skor yang baik pad tahu 2016 berada pada ranking 74, sedangkan pada tahun 2018 berada pada ranking 64.


Ada yang menarik suatu kasus terkait dengan perilaku orang muslim, bahwa seorang pedagang Islam datang ke suatu tempat untuk minta label internasional yang palsu. Pada kesempatan lain, seorang muslim itu diundang makan dan ditawari makanan babi. Dia menjawab tidak mau, karena babi itu haram. Respon yang muncul, bahwa makan sesuatu yang haram itu tidak boleh, tetapi menjual sesuatu yang haram itu boleh.


Lain halnya dengan kisah seorang Muslim Jepang, bahwa ketika dia pergi ke dunia Barat, dia melihat perilaku Islam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika dia pergi ke Timur, dia tidak melihat perilaku Islami dalam kehidupan sehari-harinya. Dia bersyukur kepada Allah swt, bahwa dia melihat Islam lebih dulu daripada dia melihat orang Islam berperilaku.


Memang Islam tidak boleh diturunkan hanya menjadi aktivitas ritual saja. Islam seharusnya membumi. Islam seharusnya bisa membuat damai. Islam seharusnya dapat dirasakan oleh semua dan mampu memberikan kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada  kekerasan dan eksploitasi di negara yang mayoritas Islam. Para pimpinannya harus tegakkan keadilan. Jika kita tidak gunakan etika Islam atau akhlaq dalam kehidupan sehari-hari,  maka korupsi bisa terus merajalela, dan aib akan mewarnai masa depan kita.


Jika tanah nusantara kita sebagian besar pada awal kesejarahannya dihuni oleh pengikut Animisme dan Dinamisme, kini sudah berubah total dihuni oleh ummat beragama, bahkan Muslim sebagai mayoritasnya. Jika kini ummat Islam masih fokus pada aktivitas ritual saja dan minim aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka kini saatnya dan masa-masa mendatang, ummat Islam Indonesia seharusnya bangkit dalam membumikan nilai-nilai Islam, sehingga bisa terjadi tegaknya negara dan bangsa yang berkeadilan, bebas korupsi dan masyarakatnya maju dalam kehidupan yang damai dan makmur. Jika kita bisa wujudkan semuanya ini, maka insya Allah antara Iman, Islam, dan Ihsan maujud dalam keseimbangan, yang akhirnya bisa menempatkan Posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang mayoritasnya penduduknya Muslim masuk di 10 besar bersama-sama negara-negara Barat yang telah mampu tunjukkan periku Islam terlebih dulu. (*)


*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.


Baca juga

Posting Komentar