Survei BI: Warga RI Mulai Putus Asa Cari Kerja, Apa Solusinya?

 


Survei BI: Warga RI Mulai Putus Asa Cari Kerja, Apa Solusinya?

Jakarta – Hasil survei Bank Indonesia (BI) terbaru memberi sinyal lampu kuning bagi perekonomian nasional. Pada Agustus 2025, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) turun ke level 105,1, anjlok dibanding Juli yang masih di angka 106,6. Angka ini menjadi yang terendah sejak April 2022, saat ekonomi masih dibayangi hantaman pandemi Covid-19.

Turunnya IKE terutama dipicu oleh melemahnya Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang terperosok ke 93,2. Artinya, persepsi masyarakat tentang peluang kerja kini masuk zona pesimis. Bukan sekadar angka, kondisi ini menggambarkan keresahan nyata di lapangan: lapangan kerja kian sulit dicari.

Anak Muda Jadi Korban Terbesar

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2025 mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang, naik dari tahun sebelumnya 7,20 juta. Ironisnya, mayoritas pengangguran justru datang dari kelompok usia muda:

  • Usia 15–24 tahun (Gen Z): 3,55 juta orang
  • Usia 25–34 tahun: 1,94 juta orang

Padahal, dua kelompok usia ini merupakan motor utama bonus demografi Indonesia. Jika peluang kerja semakin terbatas, potensi demografi emas bisa berubah menjadi bencana sosial-ekonomi.

Dampak Domino ke Ekonomi

Optimisme masyarakat soal kerja dan pendapatan erat kaitannya dengan konsumsi. Ketika orang pesimis terhadap peluang kerja, mereka cenderung menahan belanja. Akibatnya:

  • Daya beli melemah
  • Permintaan dalam negeri tertekan
  • Pertumbuhan ekonomi berpotensi stagnan

Inilah yang membuat survei BI kali ini perlu menjadi alarm serius bagi pemerintah dan dunia usaha.

Lalu, Apa Solusinya?

Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Ada beberapa langkah konkret yang bisa ditempuh:

1. Pemerintah

  • Dorong penciptaan lapangan kerja baru lewat insentif investasi di sektor padat karya, khususnya manufaktur, agribisnis, dan ekonomi hijau.
  • Percepat program digitalisasi UMKM agar lebih banyak usaha kecil bisa naik kelas dan menyerap tenaga kerja.
  • Perluas skema pelatihan vokasi & reskilling bekerja sama dengan industri, agar lulusan sesuai kebutuhan pasar kerja.
  • Fasilitasi program upskill di bidang trading manual dan algoritmik, dengan metode yang sudah verified dan terbukti menghasilkan.
    ➝ Pemerintah bisa menyalurkan modal awal terukur sebagai bentuk dukungan, sambil melatih anak muda untuk mengelola risiko dan menghasilkan profit berkelanjutan.
    ➝ Ini bukan sekadar spekulasi, tapi bentuk literasi finansial tingkat lanjut yang bisa membuka profesi baru di era digital.

2. Dunia Usaha

  • Kolaborasi dengan kampus & SMK untuk menyiapkan talenta siap pakai.
  • Buka peluang magang & kerja paruh waktu yang memberi pengalaman kerja bagi anak muda.
  • Manfaatkan ekonomi digital & e-commerce untuk memperluas akses usaha kecil.

3. Masyarakat & Pencari Kerja

  • Jangan hanya mengandalkan lowongan formal, tetapi ciptakan peluang wirausaha kecil-kecilan, terutama berbasis digital.
  • Kuasai keterampilan baru (upskilling), misalnya coding, desain, digital marketing, hingga keahlian teknis yang dibutuhkan industri.
  • Bangun jejaring komunitas untuk saling berbagi peluang kerja dan usaha.
  • Manfaatkan platform digital freelance seperti GoKerja.online – marketplace karya anak bangsa mirip Fiverr, tempat siapa saja bisa menjual jasa dan keterampilan.
  • Bagi yang ingin jalur finansial, pelajari trading manual & algoritmik dengan pendekatan profesional.
    ➝ Dengan dukungan pelatihan profesional dan modal awal dari pemerintah, masyarakat bisa menjadikan trading sebagai sumber penghasilan alternatif.
    ➝ Skill ini bisa membantu mereka yang sulit masuk kerja formal tetap punya “mesin pendapatan” mandiri.

Penutup

Survei BI menegaskan: keresahan masyarakat soal pekerjaan nyata adanya. Jika tidak segera direspons dengan kebijakan dan inovasi konkret, bonus demografi bisa berubah jadi beban demografi.

Namun, dengan kerja sama pemerintah, dunia usaha, generasi muda, serta pemanfaatan platform digital seperti GoKerja.online dan upskilling di bidang trading profesional, jalan keluar selalu ada. Ekonomi Indonesia butuh optimisme baru, bukan pesimisme berkepanjangan.