Gunung Semeru Erupsi: Isyarat Kosmos dari Puncak Pulau Jawa
Gunung Semeru Erupsi: Isyarat Kosmos dari Puncak Pulau Jawa
Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa yang dalam kosmologi Nusantara kerap disebut sebagai poros jagat atau "Mahameru", kembali bergolak pada Senin (22/9/2025). Letusan dengan kolom abu hingga 700 meter di atas puncak menjadi tanda bahwa alam masih hidup, bernapas, dan berbicara kepada manusia.
Secara kasat mata, data seismograf mencatat amplitudo 22 mm
dengan durasi letusan mencapai 182 detik hingga 139 detik pada rentang dini
hari hingga pagi. Kolom abu putih hingga kelabu bergerak ke barat daya dan
barat, seolah memperlihatkan arah energi bumi yang tengah mencari keseimbangan.
Namun dalam pandangan kosmologi
Jawa dan Nusantara, erupsi Semeru tidak sekadar peristiwa geologi. Gunung
dipandang sebagai axis mundi—poros
semesta yang menghubungkan dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. Letusan
bukan hanya pelepasan material, melainkan juga "ucapan" bumi kepada
manusia, isyarat agar manusia kembali menyadari keterhubungannya dengan alam.
Semeru, yang dipercaya dalam tradisi Hindu-Jawa sebagai
gunung suci titipan dari India (Mahameru), adalah simbol keteguhan kosmos. Ketika ia menghembuskan abu, ia seperti sedang
mengingatkan manusia tentang hukum keseimbangan: bahwa kehidupan selalu
bergerak dalam siklus lahir-hancur, tenang-bergolak, diam-meledak.
Dalam pandangan metafisik
Nusantara, abu dan suara gemuruh Semeru bisa ditafsirkan sebagai tanda
penyucian. Abu yang jatuh menyuburkan tanah, sementara letusan adalah pelepasan
energi yang menumpuk. Semeru bukan murka, melainkan tirakat bumi—cara semesta menjaga keseimbangannya sendiri.
Bagi masyarakat Jawa, gunung adalah “kaki langit”, tempat
bertemunya doa dan bumi. Karena itu, setiap letusan selalu dimaknai ganda:
sebagai peringatan bahaya sekaligus sebagai sabda alam.
Sangkan Paraning Dumadi
Dalam falsafah Jawa, hidup manusia diringkas dalam kalimat sangkan paraning dumadi: dari mana
asal, ke mana tujuan. Gunung dipandang sebagai penjaga ingatan kolektif tentang
asal-usul (sangkan) dan arah kembali (paran). Saat Semeru menghembuskan abu, ia
seakan mengingatkan manusia bahwa perjalanan duniawi selalu diikat oleh hukum
kosmik yang lebih besar.
Letusan Semeru juga dapat dibaca melalui prinsip memayu hayuning bawana—tugas manusia
untuk menjaga keindahan dan keseimbangan jagat. Abu yang turun akan menyuburkan
tanah, melahirkan kesuburan baru, namun hanya jika manusia bijak menyikapi.
Bila manusia lupa, yang muncul bukan harmoni, melainkan bencana. Maka letusan
ini adalah peringatan agar manusia selaras
kembali dengan alam, tidak hanya mengeksploitasi, tetapi juga merawat.
Dalam kosmologi Hindu-Jawa, Semeru adalah poros dunia (axis mundi), gunung suci
yang diturunkan para dewa dari India sebagai Mahameru untuk menyeimbangkan
tanah Jawa. Erupsinya adalah tanda bahwa keseimbangan kosmos tengah diguncang.
Ia bukan semata gejala fisik, tetapi ritus
kosmik, semacam tapa brata bumi untuk melepaskan energi berlebih dan
menyucikan diri.
Gemuruh Semeru dini hari hingga pagi bukan sekadar bunyi
letusan, melainkan gamelan gaib semesta.
Abu putih-kelabu yang menjulang ke angkasa adalah tirai antara dunia manusia
dan dunia atas, seolah kosmos sedang menegaskan batas, mengingatkan bahwa
manusia bukan penguasa tunggal, melainkan bagian dari jejaring besar kehidupan.
Dengan demikian, erupsi Semeru bukan sekadar bencana, tetapi
juga wejangan (ajaran). Ia
mengingatkan manusia akan tiga hal:
- Sangkan → jangan lupa asal-muasal, bahwa manusia
berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.
- Paran → arahkan hidup pada tujuan mulia, bukan
sekadar mengejar harta, jabatan, atau kuasa.
- Dumadi → sadari bahwa setiap kejadian—termasuk erupsi—adalah
bagian dari ciptaan dan hukum kosmik yang harus dihormati.
Refleksi Doa
Erupsi Semeru adalah pangeling-eling, pengingat bagi kita
semua. Dalam kearifan Jawa, doa bukan sekadar permintaan, tetapi laku menyelaraskan diri dengan jagat.
Maka dari itu, kita panjatkan harapan:
“Mugi
Gusti paring katentreman, mugi Semeru tedhak dados pepadang, dudu bebaya. Mugi
para tiyang tansah éling lan waspada, saged memayu hayuning bawana, nggayuh
urip selaras karo jagat.”
(“Semoga Tuhan memberi ketentraman, semoga Semeru turun
sebagai penerang, bukan malapetaka. Semoga manusia selalu ingat dan waspada,
mampu menjaga keindahan dan keseimbangan dunia, meraih hidup yang selaras
dengan alam semesta.”)
Dengan begitu, letusan Semeru tidak hanya kita baca sebagai
bencana, tetapi juga sebagai suluk
kosmos—ajaran sunyi dari bumi untuk manusia.
