Burden Sharing, Sirine Darurat Ekonomi yang Tak Boleh Jadi Kebiasaan
Burden Sharing,
Sirine Darurat Ekonomi yang Tak Boleh Jadi Kebiasaan
Ketika Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah kembali bicara
soal burden sharing, masyarakat sebenarnya sedang mendengar sirine darurat ekonomi. Kenapa? Karena
skema ini tidak lahir di masa normal, melainkan saat APBN megap-megap, defisit
melebar, dan pasar tidak sanggup menanggung utang pemerintah dengan biaya
wajar.
Obat Darurat Bukan
Vitamin Harian
Burden sharing sejatinya adalah IGD ekonomi. Ia menolong pasien (APBN) yang kritis agar tidak
kolaps. Tapi bayangkan kalau obat darurat dipakai setiap hari—pasien bukannya
sembuh, malah ketergantungan.
Pemerintah tentu merasa terbantu karena beban bunga utang
berkurang. Namun, pasar membaca sinyal lain: “oh, negara lagi sakit.”
Kredibilitas fiskal dipertanyakan, rupiah bisa melemah, dan inflasi mengintai.
Risiko yang Tak Boleh
Diremehkan
- Independensi BI Tergadai
Bank sentral yang terlalu sering jadi “mesin ATM” APBN bisa kehilangan wibawa di mata investor global. - Kepercayaan Pasar Goyah
Investor butuh kepastian bahwa fiskal dikelola sehat. Jika burden sharing jadi kebiasaan, kepercayaan akan terkikis. - Inflasi Bisa Meledak
Cetak uang untuk membeli SBN memang cepat, tapi jika tanpa kontrol, harga-harga akan jadi bom waktu.
Jalan Keluar: Kembali
ke Jalur Normal
Burden sharing boleh dipakai saat krisis, tapi harus ada exit strategy yang jelas. Pemerintah
harus segera memperkuat penerimaan pajak, mengurangi defisit, dan mengembalikan
pasar sebagai sumber pembiayaan utama.
Jika tidak, sirine darurat ini bisa berubah jadi lonceng
bahaya jangka panjang. Ekonomi tidak boleh bergantung pada “cairan infus” dari
BI, tapi harus pulih dengan ototnya sendiri.
Penutup
Burden sharing bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan alarm keras bahwa kondisi ekonomi sedang
rapuh. Seperti sirine ambulans di jalan, ia mengingatkan bahwa ada pasien
kritis yang harus segera ditangani. Pertanyaannya: maukah kita serius
menyembuhkan, atau hanya terus membius pasien agar tampak baik-baik saja?
