Burden Sharing, Sirine Darurat Ekonomi yang Tak Boleh Jadi Kebiasaan

 


Burden Sharing, Sirine Darurat Ekonomi yang Tak Boleh Jadi Kebiasaan

Ketika Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah kembali bicara soal burden sharing, masyarakat sebenarnya sedang mendengar sirine darurat ekonomi. Kenapa? Karena skema ini tidak lahir di masa normal, melainkan saat APBN megap-megap, defisit melebar, dan pasar tidak sanggup menanggung utang pemerintah dengan biaya wajar.

Obat Darurat Bukan Vitamin Harian

Burden sharing sejatinya adalah IGD ekonomi. Ia menolong pasien (APBN) yang kritis agar tidak kolaps. Tapi bayangkan kalau obat darurat dipakai setiap hari—pasien bukannya sembuh, malah ketergantungan.

Pemerintah tentu merasa terbantu karena beban bunga utang berkurang. Namun, pasar membaca sinyal lain: “oh, negara lagi sakit.” Kredibilitas fiskal dipertanyakan, rupiah bisa melemah, dan inflasi mengintai.

Risiko yang Tak Boleh Diremehkan

  1. Independensi BI Tergadai
    Bank sentral yang terlalu sering jadi “mesin ATM” APBN bisa kehilangan wibawa di mata investor global.
  2. Kepercayaan Pasar Goyah
    Investor butuh kepastian bahwa fiskal dikelola sehat. Jika burden sharing jadi kebiasaan, kepercayaan akan terkikis.
  3. Inflasi Bisa Meledak
    Cetak uang untuk membeli SBN memang cepat, tapi jika tanpa kontrol, harga-harga akan jadi bom waktu.

Jalan Keluar: Kembali ke Jalur Normal

Burden sharing boleh dipakai saat krisis, tapi harus ada exit strategy yang jelas. Pemerintah harus segera memperkuat penerimaan pajak, mengurangi defisit, dan mengembalikan pasar sebagai sumber pembiayaan utama.

Jika tidak, sirine darurat ini bisa berubah jadi lonceng bahaya jangka panjang. Ekonomi tidak boleh bergantung pada “cairan infus” dari BI, tapi harus pulih dengan ototnya sendiri.

Penutup

Burden sharing bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan alarm keras bahwa kondisi ekonomi sedang rapuh. Seperti sirine ambulans di jalan, ia mengingatkan bahwa ada pasien kritis yang harus segera ditangani. Pertanyaannya: maukah kita serius menyembuhkan, atau hanya terus membius pasien agar tampak baik-baik saja?