383 Ekonom Bersatu: Populisme Fiskal Jadi Bom Waktu Politik

Lili Yan Ing


383 Ekonom Bersatu: Populisme Fiskal Jadi Bom Waktu Politik

Rachmad Rofik -pemerhati ekonomi politik dan trader berbasis AI

Indonesia sedang berjalan di tepi jurang. 383 ekonom dan 283 pemerhati ekonomi yang bersatu dalam Aliansi Ekonom Indonesia jelas bukan angka kecil—ini sinyal konsensus kuat bahwa arah kebijakan negara sedang salah besar.

Menurut inisiatornya, Lili Yan Ing, krisis yang kita hadapi bukan sekadar perlambatan ekonomi global, tetapi kegagalan tata kelola domestik. Ketika gelombang protes publik semakin besar, itu bukan hanya ekspresi marah, melainkan peringatan dini bahwa legitimasi politik sedang rapuh.

Populisme Fiskal: Politik Membeli Simpati

Kebijakan seperti Makan Bergizi Gratis, koperasi politik Merah Putih, hilirisasi, dan subsidi energi jumbo menelan Rp 1.414 triliun (37,4% APBN 2026). Angka fantastis ini sejatinya bukan instrumen pembangunan, melainkan alat patronase politik. Pemerintah sedang membeli simpati rakyat dengan fiskal negara, padahal ongkosnya adalah:

  • Anggaran kesehatan dan pendidikan tergerus.
  • UMKM yang semestinya diberdayakan justru terpinggirkan.
  • Ruang fiskal untuk menghadapi guncangan global makin sempit.


Secara ekonomi, ini mirip resep menuju krisis fiskal. Secara politik, ini adalah pola scapegoating—rakyat diberi ilusi bantuan, sementara struktur ekonomi makin terkonsentrasi di tangan segelintir elit.


Dominasi Negara: Ekonomi Jadi Alat Kekuasaan

Keterlibatan BUMN, TNI, Polri, hingga Danantara dalam bisnis dan distribusi sumber daya menandai kembalinya statisme gaya lama. Negara bukan hanya regulator, melainkan pemain dominan. Akibatnya:

  • Pasar kehilangan kompetisi sehat.
  • Lapangan kerja lokal tergusur.
  • Ekosistem swasta dan UMKM tersisih.


Di balik layar, ini bukan semata kebijakan ekonomi, melainkan strategi politik: mengikat loyalitas institusi strategis lewat proyek ekonomi.

Krisis Institusi: Demokrasi Kosmetik

Lebih berbahaya lagi, independensi lembaga kunci seperti BI, BPS, BPK, KPK, hingga DPR terkikis intervensi politik. Tanpa institusi yang netral, tidak ada mekanisme check and balance. Demokrasi hanya jadi kosmetik, sementara keputusan ekonomi sepenuhnya dikendalikan lingkaran kekuasaan.

Sejarah mengingatkan kita: ketika kekuasaan terlalu terkonsentrasi, krisis ekonomi cepat berubah jadi krisis politik. 1998 adalah cermin paling jelas.

Desakan Ekonom = Ultimatum Politik

Tujuh desakan darurat yang diajukan aliansi ekonom bukan sekadar daftar teknis, tetapi ultimatum politik terselubung:

  • Hentikan populisme fiskal.
  • Kembalikan independensi lembaga.
  • Batasi dominasi negara.
  • Alihkan fokus ke demokrasi yang sehat dan perlindungan sosial yang tepat sasaran.


Jika tidak diindahkan, legitimasi pemerintahan akan terkikis semakin cepat. Gelombang protes yang kini terdengar sporadis bisa berubah menjadi arus massa permanen, apalagi bila ketidakadilan sosial makin terasa.

Penutup: Ancaman Krisis 1998 Versi Baru

Hari ini kita melihat pola klasik: ekonomi dipolitisasi, lembaga dilemahkan, dan rakyat diberi ilusi kesejahteraan. Semua ini mengarah pada risiko lahirnya krisis 1998 versi baru—bukan karena kolaps moneter semata, tetapi karena akumulasi frustrasi sosial akibat populisme fiskal dan erosi demokrasi.

Jika pemerintah ingin bertahan, ia harus memilih: memperbaiki arah kebijakan atau menunggu sejarah berulang.


7 Desakan Darurat Ekonomi

  1. Atasi ketimpangan multidimensi. Integrasikan bansos agar tepat sasaran, perkuat perlindungan sosial adaptif, berdayakan UMKM, konversi subsidi energi ke bantuan tunai, serta berantas judi online lintas negara.
  2. Kebijakan berbasis bukti, bukan populisme. Aliansi meminta pemerintah kembali ke proses teknokratis dan menghindari program populis yang dianggap membebani fiskal seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sekolah rakyat, hilirisasi, subsidi energi, dan Danantara.
  3. Perkuat institusi dan tata kelola demokrasi. Tingkatkan kualitas institusi, bangun kepercayaan publik, sehatkan tata kelola penyelenggaraan negara, serta kelola konflik kepentingan agar tak jadi ajang perburuan rente.
  4. Hentikan dominasi negara yang menyingkirkan ekonomi lokal. Aliansi menyoroti dominasi BUMN, TNI, Polri, dan Danantara yang dinilai membuat pasar tidak kompetitif, melemahkan UMKM, serta menyingkirkan lapangan kerja lokal.
  5. Deregulasi dan penyederhanaan birokrasi. Permudah izin usaha, cabut aturan diskriminatif seperti TKDN dan kuota impor, sederhanakan perizinan, serta berantas usaha ilegal di sektor ekstraktif.
  6. Perbaiki misalokasi anggaran. Anggaran negara harus ditempatkan secara wajar dan proporsional. Aliansi menyoroti belanja program populis Rp 1.414 triliun atau 37,4% APBN 2026 yang dinilai mengorbankan pendidikan, kesehatan, serta kesejahteraan tenaga medis dan guru.
  7. Pulihkan independensi lembaga negara. BI, BPS, BPK, DPR, KPK, dan lembaga lainnya harus bebas dari intervensi politik dan dijalankan secara transparan.


Alarm untuk Pemerintah

Aliansi menekankan, jika tujuh langkah darurat ini tidak segera diambil, Indonesia berpotensi masuk ke fase krisis sosial-ekonomi yang lebih dalam.